ARUSBAWAH.CO - Jembatan-jembatan di Kota Samarinda, seolah-olah tak henti-hentinya menerima petaka.
Struktur penghubung vital di atas Sungai Mahakam itu terus-menerus ditabrak kapal tongkang dan ponton.
Dalam kurun Februari 2025 hingga Januari 2026, tercatat setidaknya lima insiden tabrakan terjadi di bentang panjang 980 KM Sungai Mahakam.
Mayoritas dari semua penabarakan itu diketahui terjadi di luar jam pengolongan.
Padahal dalam ketentuan dan regulasi telah diatur jam pengolongam mulai dari pulul 06.00 pagi hingga 18.00 sore.
Jembatan Mahakam dan Mahakam Ulu (Mahulu) adalah dua infrastruktur penting sebagai sumber ekonomi kota Samarinda seolah menjadi sasaran empuk lalu lintas sungai yang tak pernah benar-benar dinilai tertib.
Setiap tabrakan kedua jembatan tersebut pasti meninggalkan jejak mulai dari beton atau dolphin yang tergores, fender pengaman hilang hingga pilar yang tenggelam ke dasar sungai Mahakam.
Tapi yang paling terasa justru pembiarannya, entah siapa yang harusnya bertanggungjawab atas insiden yang terus berulang.
Rentetan Penabrakan Jembatan Mahakam 2025-2026
Penabrakan Pertama: 16 Februari 2025
Peristiwa penabrakan pertama terjadi pada Minggu sore, 16 Februari 2025.
Sekitar pukul 15.50 Wita, tongkang Indosukses 28 yang ditarik tugboat MTS 28 menghantam safety fender pilar P2 dan P3 Jembatan Mahakam.
Tongkang bermuatan kayu diketahui milik PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra (PMTS) itu melaju dari Kutai Kartanegara menuju luar Kaltim.
Arus Sungai Mahakam saat itu sedang kuat sehingga kapal kesulitan bermanuver dan akhirnya menghantam pelindung jembatan.
Penabrakan itu membuat fender atau pengaman jembatan lepas dari dudukannya, jatuh, lalu tenggelam ke dasar sungai.
Sejak saat itu, pilar jembatan berdiri tanpa perlindungan tambahan.
PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra dalam pernyataan sikpanya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi II DPRD Kaltim beberapa waktu lalu, menyatakan perusahaannya siap bertanggung jawab.
Perusahaannya pada saat rapat itu menyatakan pekerjaan Perbaikan fender dilakukan pada tanggal 9 atau 10 Januari 2026.
Namun waktu berjalan hingga kini, perbaikan atau penggantian fender pun tak kunjung dimulai.
Penabrakan Kedua: 26 April 2025
Belum genap tiga bulan, jembatan yang sama kembali menerima hantaman.
Sabtu malam sekitar pukul 23.15 Wita, 26 April 2025, kapal Liberty 7 yang menggandeng tongkang Tsamara 3035 bermuatan batu bara menabrak Jembatan Mahakam.
Insiden terjadi di luar jam operasional pandu kapal.
Kapal semula hendak bertambat untuk menunggu jadwal melintas keesokan hari.
Namun arus deras sungai mahakam malam itu membuat tali tambat terlepas.
Tongkang hanyut tak terkendali dan menghantam pilar ke empat jembatan Mahakam.
Dari pengamatan visual, satu tiang pancang tampak bengkok dan nyaris patah.
Waktu kian berjalan, tapi perbaikan pilar tersebut tak juga terlihat.
Penabrakan Ketiga: 23 Desember 2025
Menjelang akhir tahun, giliran Jembatan Mahakam Ulu atau Mahulu yang menjadi sasaran.
Selasa dini hari pukul 05.30 Wita, 23 Desember 2025, tongkang M80-1302 yang ditarik tugboat KD2018 menghantam pilar keenam jembatan.
Kapal bermuatan batu bara itu melintas di luar jadwal resmi pengolongan yang telah ditetapkan KSOP dan Pelindo.
Arus sungai yang deras membuat tongkang kehilangan kendali.
Benturan terjadi dari arah samping hingga menyeret kapal dan membentur dua pilar sekaligus.
Sisi kanan kapal tongkang penyok parah, sementara pilar beton jembatan mengalami luka gores di area penyangga utama.
Penabrakan Keempat: 4 Januari 2026
Petaka belum berhenti di situ.
Minggu dini hari, 4 Januari 2026, sekitar pukul 01.17 Wita tengah malam, dua unit tongkang kembali lepas kendali di kawasan jembatan Mahulu.
Kali ini, dampaknya merembet ke darat.
Tongkang bermuatan batu bara berputar tanpa arah sebelum buritannya menghantam bagian dapur masak belakang rumah warga di bantaran Sungai Mahakam, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek.
Warga sekitar pada saat itu sempat mengaku mendengar suara mesin yang tak normal, disusul teriakan panik dari arah sungai.
Benturan keras oleh kapal pengangkut emas hitam itu membuat warga sekitar terbangun, sehingga meninggalkan trauma bagi penghuni rumah di tepi sungai.
Baru Penabrakan Kelima: 25 Januari 2026
Baru-baru ini Insiden kelima terjadi pada Minggu pagi, 25 Januari 2026.
Sekitar pukul 05.00 Wita, tongkang BG Marine Power 3066 menghantam pilar Jembatan Mahakam Ulu setelah tali tambatnya putus.
Peristiwa ini dipicu senggolan antarkapal di jalur Sungai Mahakam yang padat.
Tongkang sempat berlabuh tanpa kapal penarik.
Namun jangkar tak mampu menahan derasnya arus.
Kapal kembali hanyut dan menghantam pilar jembatan dengan keras.
Benturan itu menambah daftar panjang luka di struktur jembatan.
Ancaman Keselamatan dan Infrastruktur Sungai Mahakam
Lima tabrakan dalam kurun setahun menunjukkan persoalan serius di Sungai Mahakam.
Jembatan yang seharusnya dilindungi justru berulang kali menjadi korban kelalaian dan kepadatan lalu lintas sungai mahakam sebagai urat nadi ekonomi mulai dari pergerakan logistik, kendaraan berat, dan aktivitas lalu lalang setiap hari bagi 4,2 juta masyarakat Kalimantan Timur
(wan)




