Ali menuturkan, pernah ada upaya mengelola kembali sumur-sumur tersebut, namun tak berjalan lama.
Ia menjelaskan proyek eksisting sumur-sumur migas di Kaliorang pada saat itu sempat dilakukan pengeboran namun kata dia berhenti di tengah jalan tanpa kejelasan.
Karena itu, ia berharap sosialisasi yang dilakukan SKK Migas itu tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
“Kami berharap ini bukan cuma ketemu hari ini lalu selesai. Harus ada tindak lanjut. Kami butuh tim yang benar-benar turun ke desa, melihat langsung, memastikan ini ada buktinya dan ada potensinya,” kata Ali.
Turunnya Tim Teknis SKK Migas Jadi Kunci
Baginya, kehadiran tim teknis dari SKK Migas yang turun langsung ke lokasi-lokasi sumur menjadi kunci.
Tanpa verifikasi langsung, kata ali, kepercayaan masyarakat sulit dibangun kembali.
“Tindak lanjut ke lapangan itu penting sekali. Supaya semua jelas,” ujarnya.
BUMDes dan Warga Kaliorang Minta Dilibatkan Langsung
Ali juga menegaskan kesiapan masyarakat Kaliorang untuk dilibatkan dalam pengelolaan sumur migas tua tersebut.
BUMDes Kaliorang, kata dia, sudah mulai melakukan komunikasi internal, termasuk dengan kepala desa dan tokoh adat terkait wacana mengaktifkan kembali sumur-sumur tua.
“Kami siap. Ketua adat siap, kepala desa siap. Kalau nanti tim datang, kami siap mendampingi, menunjukkan lokasinya langsung,” ujarnya.
Sumur Migas Tua di Atas Lahan Warga dan Isu Ganti Rugi
Selain itu, persoalan lain yang tak kalah penting menurut ali adalah soal status lahan.
Sebagian besar sumur tua di Kaliorang berada di atas lahan milik masyarakat, tepatnya di kawasan perkebunan warga.
Kondisi itu, kata dia, membuat urusan ganti rugi lahan menjadi isu sensitif.
“Sumur-sumur ini ada di wilayah masyarakat. Otomatis akan ada penawaran antara investor dan pemilik lahan. Nah, di sinilah pentingnya pertemuan seperti ini,” kata Ali.
Tag



