“Yang urus di sana semua dari manajemen mereka. Harus profesional. Jangan dikira melipat sprei itu mudah. Sekali tamu komplain karena kotor sedikit, bisa jadi cerita buruk ke tamu lain. Jadi kualitas pelayanan harus dijaga,” tegas Muzakkir.
Sementara itu, tarif hotel sudah ditetapkan oleh pihak manajemen dengan sistem bagi hasil yang telah disepakati.
MBS juga memiliki target untuk menyetor dividen tahunan ke Pemprov sesuai peraturan yang berlaku.
“Ada target dividen untuk kita. Setiap tahun nanti dihitung berapa laba bersihnya, itu yang dibagi 35 persen ke Pemprov, 65 persen ke MBS. Itu masuk ke PAD, dan itu yang kita kejar," lanjutnya.
Evaluasi dan Peluang Lelang Terbuka
Meski kini dikelola MBS, Pemprov tak menutup kemungkinan untuk membuka lelang terbuka bagi pengelolaan hotel atlet di masa depan.
Langkah itu akan diambil jika kinerja MBS tidak memenuhi target yang ditetapkan Pemprov.
Ia memastikan, evaluasi akan dilakukan secara berkala.
Hasil kinerja MBS akan menjadi tolak ukur apakah pengelolaan ini akan dilanjutkan atau dibuka untuk kompetisi dengan swasta.
“Kita ingin membuka seluas-luasnya kesempatan bagi yang profesional. Tapi kalau Perusda kita bisa, kenapa harus ke yang lain? Dari kantong kanan ke kantong kiri aja dulu. Tapi kalau nanti mereka enggak mampu, baru kerja sama lagi dengan pihak lain,” pungkas Muzakkir.
(wan)
Tag




