Sutardi berbicara tentang pedagang kecil yang sering kali berada di posisi paling rentan. Ia menekankan perlunya perlindungan agar pasar tidak hanya menguntungkan yang kuat.
Sementara Sholimin mengingatkan pentingnya kesadaran hukum. Menurutnya, aturan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga agar usaha bisa berjalan lebih lama dan berkelanjutan.
Diskusi dipandu Hendra Suryana sebagai moderator. Beberapa warga ikut angkat suara. Ada yang bertanya soal izin usaha, ada yang mengeluhkan persaingan tidak sehat, ada pula yang berbagi pengalaman menghadapi perubahan pasar.
Demokrasi yang Dimulai dari Desa
Malam itu, PDD bukan sekadar agenda formal. Ia berubah menjadi ruang berbagi pengalaman dan kegelisahan.
Tidak semua masalah langsung selesai, tetapi setidaknya ada ruang untuk bicara dan didengar.
Menutup kegiatan, Didik Agung menegaskan bahwa demokrasi daerah hanya bisa kuat jika dimulai dari bawah, dari desa, dari pasar, dari kehidupan sehari-hari warga.
“Kalau warga paham hak dan kewajibannya, demokrasi tidak perlu dipaksakan. Ia tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.
Lampu balai desa perlahan meredup. Warga pulang satu per satu. Diskusi usai, tapi percakapan tentang pasar, usaha, dan keadilan masih terus terbawa dalam obrolan kecil di jalan pulang. (adv)
Tag



