ARUSBAWAH.CO - Harapan warga Desa Kaliorang, Kutai Timur, untuk bisa membawa produk kuliner lokal menembus pasar internasional semakin besar.
Keinginan itu mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Inovasi Produk Kuliner yang digelar Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) pada 4–5 Desember 2025 lalu.
Dua hari pelatihan di Gedung Olahraga Desa Kaliorang itu diikuti 30 pelaku ekonomi kreatif—mulai dari anggota Pokdarwis hingga UMKM lokal.
Mereka datang dengan satu mimpi sederhana: produk desa mereka tak hanya berhenti di warung, tapi bisa ada di rak-rak pasar ekspor.
“Kami Ingin Juga Nikmati Uang Eropa”
Muhammad Ali, Direktur BUMDes Bumi Etam Sejahtera Kaliorang, menjadi salah satu peserta Bimtek
Dengan lugas ia menggambarkan peluang ekspor yang selama ini hanya disentuh lewat perantara.
Saat ini beberapa produk seperti sambal ikan cakalang, bolu pisang gerecek, hingga olahan desa lainnya sudah dibeli broker untuk dijual ke pasar ekspor.
“UMKM tetap untung, karena harga dibeli sesuai pasar. Tapi kan kami ingin juga nikmati rezeki Eropa itu bagaimana,” kata Ali, dalam ceritanya kepada redaksi Arusbawah.co.
Menurutnya, BUMDes telah didorong untuk mengekspor langsung, sesuai arahan dari pemerintah pusat melalui kementerian dan pemerintah daerah melalui dinas terkait.
Yang menjadi tantangan adalah kelengkapan regulasi dan dokumen legalitas.
“Kalau hanya jual di desa, kita tak tahu pasar yang lebih luas. BUMDes harus berani masuk,” lanjutnya.
Namun Ali menegaskan bahwa inovasi kuliner tak bisa asal cepat jadi. Resep yang diambil dari internet harus diuji, bukan sekadar disalin.
“Produk harus dicoba dan diperiksa dulu. Jangan langsung ambil dari Google,” tekannya.
Potensi Besar: Pisang Gerecek & Ikan Laut
Adiatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dispar Kaltim, Erni Yulianti Silalahi, menyebut Desa Kaliorang punya potensi bahan baku kuat: pisang dan ikan.
Bahkan beberapa UMKM sudah menerima dukungan CSR dari perusahaan sekitar.
“Tinggal bagaimana produk lokal ini naik kelas dan berani masuk pasar yang lebih luas,” kata Erni.

Belajar Ekspor: Tak Harus Skala Besar, Mulai dari Satu Kotak Saja pun Bisa Dilakukan
Banyak pelaku UMKM masih membayangkan ekspor sebagai sesuatu yang rumit, mahal, dan membutuhkan modal besar.
Namun kegiatan belajar ekspor dalam sebuah sesi berbagi pengalaman membuktikan sebaliknya: ekspor justru bisa dimulai dari skala kecil — bahkan dari satu kotak produk saja.
Dispar Kaltim menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda untuk memberi sudut pandang lengkap kepada peserta.
Mulai dari strategi pemasaran digital, kekuatan desain kemasan, hingga pengalaman nyata pelaku UMKM yang produknya sudah menembus pasar ritel modern.
1. Anggara – Owner Persada Nusantara Group: Mulai dari Satu Box
Dijelaskan Erni, materi awal sangat membuka mata peserta.
Anggara, seorang eksportir sekaligus pelaku bisnis makanan ringan, memaparkan bahwa pasar ekspor tidak melulu identik dengan volume besar.
“Bapak Anggara menjelaskan bahwa ekspor bisa dimulai dari satu box. Yang penting ada permintaan dan kita mampu memenuhinya,” jelas Erni.
Ia menegaskan kembali pesan narasumber: market makanan ringan tidak pernah sepi, karena produk-produk Indonesia punya ciri khas rasa yang disukai pasar luar negeri.
Melalui kanal penjualan online, UMKM bisa menjangkau pembeli dari berbagai negara tanpa harus menunggu skala produksi besar.
2. Roni – Dosen DKV Polnes: Kemasan adalah Daya Tawar
Kemudian, ada pula materi dari Roni, seorang akademisi desain komunikasi visual Polnes yang menekankan pentingnya kemasan untuk pasar global.
Roni mengingatkan bahwa kemasan bukan sekadar bungkus, tetapi identitas produk yang menentukan kesan pertama pembeli luar negeri.
Ia menjabarkan kebutuhan teknis seperti nutrition facts, label P-IRT, hingga informasi produk yang harus terpampang jelas untuk memenuhi standar ekspor.
“Pak Roni menjelaskan bahwa kemasan yang baik membuat produk punya nilai tawar. Pembeli luar negeri akan lebih percaya jika informasi produknya lengkap,” kata Erni merangkum.
3. Owner Dapur Diana: Cerita UMKM yang Tembus Supermarket
Materi terakhir dibawakan oleh pemilik Dapur Diana, UMKM lokal yang kini produknya telah masuk ke berbagai supermarket besar di Samarinda.
Erni menceritakan bagaimana narasumber ini memulai usahanya dari skala rumahan hingga akhirnya mampu memproduksi pasar-pasar gerai supermarket.
“Ibu dari Dapur Diana bilang, pasar sambal dan banana cake itu besar sekali. Kuncinya di kualitas dan ketahanannya. Beliau bahkan membagikan teknik bagaimana membuat sambal yang bisa bertahan berbulan-bulan,” ungkap Erni.
Pengalaman ini membuat banyak peserta merasa lebih optimistis, sebab contoh nyata UMKM naik kelas ada di hadapan mereka.
Harapan Baru dari Desa Kaliorang
Bimtek dua hari itu meninggalkan satu pesan: mimpi ekspor bukan milik kota besar saja. Dari desa seperti Kaliorang pun, produk kuliner bisa menembus pasar global.
Yang diperlukan hanya keberanian, inovasi, legalitas yang lengkap, dan keuletan menjaga kualitas.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Desa juga berhak masuk pasar dunia,” tegas Erni.
Dengan modal pisang gerecek, ikan segar, dan semangat warga yang ingin “merasakan uang Eropa”, Kaliorang kini mau tampil sebagai desa yang siap melangkah lebih jauh. (sobizz/pra)




