ARUSBAWAH.CO - Transisi energi terus digaungkan pemerintah sebagai langkah menuju emisi nol pada 2060.
Namun, Kalimantan Timur (Kaltim) masih berada dalam posisi dilematis karena ketergantungan yang tinggi pada energi fosil, terutama batu bara.
Menurut roadmap Pengembangan dan Pemanfaatan Batu Bara 2021–2045 dari Kementerian ESDM, sumber daya batu bara Indonesia hingga akhir 2020 mencapai sekitar 143 miliar ton.
Sebanyak 61,5% berada di Pulau Kalimantan, dengan Kaltim menjadi penyumbang terbesar, yakni sekitar 68% dari total cadangan di Kalimantan.
Minimnya Anggaran untuk Transisi Energi
Buyung Marajo dari Pokja 30 mengungkap bahwa Kaltim memang memiliki rencana transisi energi.
Namun, secara politik anggaran, belum terlihat kemauan yang kuat dari pemerintah daerah.
“Anggaran ke Dinas ESDM untuk transisi energi sangat kecil,” ujarnya dalam pelatihan Transisi Energi Menantang Dominasi Pertambangan yang digelar Yayasan CERAH dan AJI Samarinda, Kamis (7/8/2025) di Hotel Ibis Samarinda.
Buyung meragukan komitmen Kaltim dalam transisi energi, apalagi dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), penggunaan energi fosil masih tercatat 26,4% pada 2060.

Peran Jurnalis dan Ilmuwan
Roby Irfany Maqoma dari The Conversation Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi jurnalis dan ilmuwan dalam isu transisi energi.
“Banyak penelitian menarik yang bisa mendukung liputan, tetapi jurnalis harus cermat memahami riset tersebut,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan membangun kepercayaan dengan ilmuwan, mengingat kekhawatiran publikasi riset ke media populer.
Transisi Energi Harus Berkeadilan
Wicaksono Gitawan dari Yayasan Indonesia CERAH menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti fosil dengan energi terbarukan.
“Harus ada keberpihakan pada komunitas rentan yang selama ini menanggung beban industri kotor,” katanya.
Menurutnya, agenda bersama media, masyarakat sipil, dan komunitas akar rumput bertujuan menantang dominasi pertambangan dan memperkuat narasi transisi energi yang inklusif.
Peran Media dalam Mengawal Perubahan
Ketua AJI Samarinda, Yuda Almerio, menekankan peran vital jurnalis dalam memastikan transisi energi di Kaltim tidak menjadi kedok eksploitasi baru.
“Liputan investigatif berbasis data dan keberpihakan pada korban sangat penting. Jurnalis harus menjadi bagian dari perubahan, bukan sekadar pengamat,” tegasnya.
Ia menutup dengan pesan bahwa transisi energi harus inklusif dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang. (*)
Source: AJI Samarinda
- Laporan CELIOS KO PERAS Desa Merah Putih, Beber soal Beban Ganda hingga Bank Himbara Harus Putar Otak
- Gema 20 Tuntutan di Hari Buruh, Buruh Samarinda Desak Cabut UU Cipta Kerja dan Hentikan Sistem Kerja Paksa Gaya Baru
- Suara Warganet soal Kenaikan PPN 12 Persen, Latar Biru Bertuliskan Rakyat Tidak Bodoh Berseliweran di Medsos




