Arus Terkini

Tilik Kasus Filicide Orang Tua Tega Habisi Anak Kandung, Menurut Kacamata Psikologi Forensik

Tragedi di Samarinda: Dua Balita Tewas di Tangan Ayah Kandung

Kamis, 31 Juli 2025 12:34

TKP - TKP pembunuhan 2 balita oleh ayah kandung di Samarinda masih dipasang garis polisi (Foto: HO)

ARUSBAWAH.CO - Baru-baru ini, dua balita, AM (4) dan MA (2), ditemukan meregang nyawa di rumah mereka di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.

Tragisnya, pelaku adalah ayah kandung mereka sendiri, WH.

Keluarga mengungkap bahwa WH dulunya dikenal pendiam dan penyayang, namun mengalami perubahan drastis setelah sakit lambung dan tenggorokan yang memaksanya berhenti bekerja.

Ia menjadi murung, tertutup, dan diduga mengalami depresi.

Dalam kondisi rumah tangga yang retak, WH disebut tetap berusaha menjadi ayah yang perhatian.

Namun tekanan fisik, mental, dan konflik dengan sang istri yang sering meminta cerai, diduga memicu tindakannya.

WH juga diduga sempat mencoba bunuh diri namun digagalkan oleh nenek korban.

Psikolog Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani, mengkategorikan kasus ini sebagai filicide, yakni pembunuhan anak oleh orang tua kandung, dan menekankan perlunya pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku.

Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini masalah psikologis dalam keluarga.

Ayunda mengajak masyarakat lebih peduli terhadap perubahan perilaku orang terdekat dan mendorong pemanfaatan layanan konseling.

Ia menegaskan, anak-anak tak seharusnya menjadi korban pelampiasan tekanan hidup orang dewasa.

Maraknya Kasus Filicide di Indonesia

Sebelumnya, pada 2015, publik Indonesia diguncang oleh kematian tragis seorang anak bernama Engeline yang dibunuh oleh ibu angkatnya.

Kasus ini menjadi titik sorot atas fenomena kelam yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Sayangnya, kasus serupa terus berulang.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kembali sederet tragedi serupa.

Media Indonesia pada tahun 2023 mengabarkan sepasang suami istri di Tasikmalaya menghabisi nyawa anak kandung mereka sendiri.

Tak lama berselang, Kompas pada tahun 2023 juga melaporkan peristiwa mengerikan di Jakarta Selatan, di mana seorang ayah membunuh keempat anaknya secara bertahap.

Pada awal 2024, Detik News turut memberitakan seorang ibu di Bekasi yang didiagnosis skizofrenia melakukan pembunuhan terhadap anak kandungnya.

Deretan peristiwa ini merupakan bentuk nyata dari fenomena filicide, pembunuhan anak oleh orang tua.

Apa Itu Filicide?

Istilah filicide berasal dari bahasa Latin, yaitu filius (anak) dan cida (pembunuh), menurut jurnal Forensic Science International berjudul "Toward a more holistic understanding of filicide: A multidisciplinary analysis of 32 years of US arrest data."

Secara definisi, filicide menurut psikologi forensik merujuk pada tindakan menghilangkan nyawa satu atau lebih anak, umumnya berusia di atas satu tahun, oleh orang tua kandung, tiri, atau wali yang berperan sebagai figur orang tua.

Filicide diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan pelakunya:

•    Maternal filicide: pembunuhan yang dilakukan oleh ibu.
•    Paternal filicide: pembunuhan yang dilakukan oleh ayah.

Akar Sejarah Filicide, Dari Ritual hingga Motif Modern

Fenomena filicide bukan hal baru.

Di masa lampau, pengorbanan anak dilakukan oleh berbagai suku di Amerika Selatan, Afrika, dan Timur Tengah.

Pengorbanan tersebut berkaitan dengan kepercayaan dan praktik budaya yang diyakini dapat membawa kesejahteraan bagi individu atau komunitas.

Motif awal munculnya filicide juga termasuk pengendalian jumlah anggota keluarga, menyingkirkan anak dengan disabilitas, yang tidak sah, atau anak perempuan dalam sistem patriarki.

Namun, beberapa motif ini masih terlihat dalam dinamika modern.

Kategori Filicide Berdasarkan Motif

Menurut American Journal of Psychiatry, filicide dapat dikategorikan berdasarkan alasan yang melatarbelakanginya:

1. Altruistic filicide

Orang tua membunuh anak karena percaya bahwa hal tersebut menyelamatkan anak dari penderitaan. Tipe ini terbagi menjadi:

  • Filicide-suicide: pelaku juga berniat atau melakukan bunuh diri.
  • Filicide to relieve suffering: untuk mencegah penderitaan anak, baik yang nyata maupun khayalan.

2. Acute psychotic filicide

Pembunuhan terjadi tanpa motif rasional, dilakukan oleh pelaku yang mengalami delusi atau halusinasi berat.

3. Unwanted child filicide

Anak dibunuh karena dianggap sebagai beban atau tidak diinginkan, biasanya terkait tekanan ekonomi.

4. Child maltreatment filicide

Anak meninggal sebagai akibat dari kekerasan fisik ekstrem, meski tidak ada niat eksplisit untuk membunuh.

5. Spousal revenge filicide

Anak dibunuh sebagai bentuk balas dendam terhadap pasangan, misalnya karena perselingkuhan atau konflik hak asuh.

Faktor Penyebab: Gangguan Mental hingga Riwayat Kriminal

Telah teridentifikasi berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya filicide dengan delapan tema besar, yakni seperti latar belakang demografi, riwayat kriminal, penyalahgunaan zat, serta kondisi psikososial pelaku.

Gangguan mental menjadi penyebab yang paling dominan, mulai dari depresi, kecemasan, percobaan bunuh diri, hingga psikosis dan isolasi sosial.

Perbedaan Gender: Maternal vs. Paternal Filicide

Perbedaan jenis kelamin pelaku memengaruhi motif dan latar belakang tindakannya.

Maternal filicide cenderung dipicu oleh depresi pasca-melahirkan, tekanan emosional, dan minimnya dukungan sosial.

Sementara, paternal filicide umumnya didorong oleh konflik rumah tangga, kekerasan dalam rumah tangga, riwayat kriminal, dan keinginan membalas dendam.

Upaya Pencegahan: Pendekatan Multidimensi Diperlukan

Menghadapi meningkatnya kasus filicide di Indonesia, diperlukan pendekatan multidisipliner dalam menganalisis dan mencegah kejadian serupa.

Penanganan filicide harus mencakup asesmen menyeluruh terhadap riwayat pelaku, faktor lingkungan sosial, kondisi psikologis, dan motif yang melatarbelakanginya.

Selain itu, penting untuk mencegah violent recidivism, khususnya oleh pelaku filicide, yakni berupa kecenderungan melakukan kekerasan ulang.

Kolaborasi antara lembaga hukum, layanan kesehatan mental, dan lembaga sosial menjadi kunci utama dalam menanggulangi dan mencegah kasus filicide agar tidak terus berulang. (apr)

Tag

MORE