ARUSBAWAH.CO - Tragedi kemanusiaan mengguncang warga di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.
Dua balita, AM (4) dan MA (2), ditemukan tak bernyawa di rumah mereka sendiri.
Pelakunya tak lain adalah ayah kandung mereka, pria berinisial WH.
Di balik aksi keji itu, keluarga pelaku mengungkap sisi lain kehidupan WH sebelum tragedi memilukan itu terjadi.
Keluarga Ungkap Perubahan Sikap Pelaku Sebelum Tragedi
“Abang saya itu pendiam, jarang cerita, tapi sangat baik sama keluarga…”
Adik kandung pelaku, NB, menceritakan bahwa WH dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak banyak bicara.
“Abang saya itu pendiam, jarang cerita, tapi baik sama keluarga. Dulu malah friendly banget sama tetangga,” ungkapnya saat ditemui wartawan Arusbawah.co di kediamannya, pada Senin (28/7/2025).
Menurut NB, perubahan sikap WH mulai terlihat dalam sebulan terakhir.
Ia menjadi lebih murung dan sering menyendiri di dalam rumah.
“Dulu kerja aktif, sering sosialisasi, ramah. Tapi sejak sakit lambung dan tenggorokan, dia berhenti kerja. Dari situ mulai berubah. Kurus, pendiam, lebih banyak di kamar,” tambahnya.
Riwayat Pekerjaan dan Kondisi Kesehatan WH
WH diketahui sempat bekerja di perusahaan kayu di Samarinda, lalu pindah ke pergudangan.
Namun, sekitar satu bulan sebelum kejadian, ia berhenti total dari pekerjaannya karena masalah kesehatan di tenggorokan dan lambung.
“Penyakit lambungnya makin parah, badannya makin kurus. Bahkan saya sendiri lihat dia seperti depresi. Bukan karena ekonomi saja, mungkin ada yang dipendam juga, iman kurang kuat,” kata NB.
Sosok Ayah Penyayang Meski Dihimpit Masalah
Selama tidak bekerja, WH dinilai tetap berusaha menjadi ayah yang perhatian.
Ia sempat menyuapi dan memandikan kedua anaknya, sebelum kemudian mengakhiri hidup mereka dengan tangannya sendiri
“Anaknya pintar, enggak cerewet. Kalau habis makan tidur, enggak pernah rewel,” ucapnya.
Rumah Tangga Retak, Istri Sering Minta Cerai
Ditanya soal kondisi rumah tangga WH dengan istrinya, NB mengatakan hubungan mereka terkesan normal.
Tag



