ARUSBAWAH.CO - Sore itu, aroma santan yang dimasak perlahan menyeruak dari dapur sederhana di kawasan Biawan, Samarinda.
Uap tipis masih mengepul dari kukusan besar ketika satu per satu loyang wadai talam diangkat dengan hati-hati, permukaannya mengilap dan hangat.
Menjelang berbuka, suasana mendadak riuh.
Pembeli berdatangan, sementara para pedagang sigap mengiris kue menjadi potongan segitiga, membungkusnya dengan plastik bening, lalu menyerahkannya ke tangan pelanggan yang tak sabar menunggu azan magrib.
Wadai talam sendiri merupakan kue tradisional berbahan dasar santan dan tepung beras.
Biasanya dipadukan dengan gula merah, telur, atau ketan.
Teksturnya lembut dan berlapis, dikukus dalam loyang besar lalu dipotong sebelum disajikan.
Kue ini kerap hadir sebagai sajian berbuka puasa, hajatan, hingga acara keluarga.
Ragam Jenis Wadai Talam yang Dijual
Jenisnya pun beragam.
Di antaranya amparan tatak pisang, sari muka hijau, sari muka ketan, mandapa, lapis singkong, lapis india, lapis hula-hula, sari penganten, nangka susun hijau, hingga kararaban.
Kisah Nuri: Warisan Keluarga Sejak 1990-an
Bagi Nuri (35), berjualan wadai talam bukan sekadar usaha musiman.
Ia sudah akrab dengan loyang dan kukusan sejak kecil.
“Sudah lama banget, puluhan tahun. Mulai saya masih SD sudah jualan,” ujarnya saat ditemui Arusbawah.co, Sabtu (21/2/2026).
Usaha ini merupakan warisan keluarga yang dimulai dari sang nenek pada awal 1990-an.
Dulu, lapaknya berpindah-pindah di sekitar Biawan sebelum akhirnya menetap.
Kini, keluarganya lebih fokus memproduksi wadai talam, sementara jenis kue lain merupakan titipan warga sekitar.
Proses Produksi dan Omzet Selama Ramadan
Selama Ramadan, aktivitas dapur dimulai sejak pukul 08.00 pagi.
Santan menjadi bahan pertama yang diolah hingga terpisah antara bagian kental dan cair.
“Yang kental itu buat adonan atas,” jelas Nuri.
Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan satu karung gula dan lima dus tepung beras, belum termasuk ketan dan margarin.
Dibantu empat karyawan, produksi berjalan hingga menjelang siang.
Satu loyang dipotong sekitar 13 bagian dan dijual Rp15 ribu per potong. Pada awal Ramadan, penjualan bisa mencapai 20 loyang per hari.
Dalam sebulan, omzetnya bisa menyentuh Rp60–70 juta dengan modal sekitar Rp20 juta.
“Resepnya sudah turun-temurun dari mamak, nenek,” ucapnya.
Jejak Usaha Ical: Dari Citra Niaga ke Biawan
Cerita serupa datang dari Ical (27). Usaha yang ia kelola merupakan warisan neneknya yang sudah berjualan selama 24 tahun.
Perjalanan mereka dimulai dari era Pasar Citra Niaga pada 1980-an, sempat pindah ke GOR Segiri, lalu menetap di Biawan sejak 2010.
Hitung-hitungan Modal dan Keuntungan
Untuk satu kali produksi, modal berkisar Rp6–7 juta. Jika penjualan habis saat ramai, omzet harian bisa mencapai Rp14–15 juta.
Satu loyang dipotong 16–20 bagian. Jika dipotong 20 bagian dengan harga Rp15 ribu per iris, satu loyang bisa menghasilkan Rp300 ribu.
Sementara harga per loyang utuh dijual sekitar Rp250 ribu.
Rijal dan Keluarga: Bertahan dan Berkembang di Biawan
Di lapak lain, Rijal (40) melanjutkan usaha keluarga yang dimulai dari neneknya pada awal 1990-an.
Dari Jelawat, usaha mereka pindah ke Biawan sekitar 10 tahun terakhir.
Kini, keluarga Rijal memiliki lebih dari satu lapak di kawasan tersebut.
Ekonomi Berputar, Warga Ikut Sejahtera
Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan 10–15 loyang. Satu loyang dipotong 18–20 iris dengan harga sekitar Rp250 ribu per loyang.
Selain menjual produksi sendiri, mereka juga menerima titipan dari warga.
“Bagus sih, jadi ekonomi dapat semua,” ujarnya. (raf)




