Total Anggaran Terowongan Samarinda Bisa Tembus Lebih Rp485 Miliar
Proyek Terowongan Samarinda sendiri dibangun dengan skema Multi Years Contract (MYC) selama sekitar 18–22 bulan, dimulai pada 20 Januari 2023.
Spesifikasi teknisnya:
- Panjang total: ±690 meter
- Lebar dan tinggi: masing-masing 15 meter
- Metode konstruksi: New Austrian Tunneling Method (NATM)
Fungsinya untuk mengurai kemacetan di kawasan Gunung Manggah/Jalan Otto Iskandar Dinata, sekaligus menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dengan Jalan Kakap sebagai jalur alternatif menuju pusat kota dan koneksi tol Balikpapan–Samarinda/IKN.
Namun perjalanan proyek ini tak mulus.
Target awal selesai pada 2024, mundur ke 2025 akibat longsor di area inlet, persoalan pembebasan lahan, hingga kendala teknis lainnya.
Hingga 2026, terowongan masih belum bisa digunakan.
Dengan tambahan usulan Rp90 miliar di luar anggaran awal Rp395 miliar, total biaya berpotensi melampaui Rp485 miliar.
Belum Bisa Digunakan, Menunggu Izin SLF dari Pusat
Selain soal anggaran, persoalan perizinan juga menjadi ganjalan utama.
Sekretaris Dinas PUPR Samarinda, Hendra, mengakui bahwa usulan Rp90 miliar masih dalam tahap proses dan belum masuk APBD murni 2026.
Dana itu direncanakan untuk pekerjaan teknis seperti regrading lereng, penambahan ground anchor, serta penguatan lanjutan di inlet dan outlet.
Namun, meski secara kasat mata kondisi terowongan dinilai layak, penggunaannya tetap harus menunggu Sertifikat Layak Fungsi (SLF).
Tag



