Seluruh pelosok Samarinda dicarinya,
Pasar Pagi, Pasar Segiri, Pasar Sungai Dama, Pasar Merdeka, Pasar Kedondong, bahkan semua mal dijelajahinya.
Tiap malam nongkrong di Citra Niaga, bahkan semua hiburan malam dia datangi.
Pada malam purnama itu, sosok yang dicarinya setahun terakhir ini tampak. Seorang lelaki tinggi kurus berambut gondrong dengan jaket kulit lusuh tampak di dekat pelabuhan.
Tanpa pikir panjang Olo Langet mengeluarkan mandau kecil dari balik jaketnya, dipakainya menebas leher lelaki itu dari belakang.
Nai Langet puas, dendamnya terbalas, hutang darah terbalas sudah. Di kantor polisi ia mengakui semua perbuatannya. Polisi akhirnya melepaskan Nai Langet dari tuntutan hukum, setelah mendengar keterangan dua orang ahli dari rumah sakit jiwa Atma Husada, Selili. Nai Langet dinyatakan gila.
Lelaki yang ditebas, lehernya pakai Mandau itu, adalah seorang yang baru datang dari pulau seberang. Baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kota Samarinda.
Jika malam ini anda bertemu Nai Langet di tepian Mahakam, tepatnya depan kantor gubernur, pada kursi di sudut kanan itu Nai Langet nongkrong tiap bulan purnama.
Ada secangkir kopi panas dan beberapa jagung rebus diatas meja,serta kursi kosong disebelahnya.
Mbok Iyem, penjual makanan di situ paham, kursi itu tidak boleh orang lain duduk. Kursi itu khusus buat Nai Langet dan kekasihnya Nai Bulan.
Olo Langet sudah membangun rumah mungil dekat bandara AP Pranoto, semua itu hasil kerja kerasnya sebagai seorang mekanik dan ojol.
Rumah itu dia siapkan untuk ditinggali bersama Nai Bulan, calon istrinya itu. Dia ingin memiliki dua anak perempuan, karena kecantikan Nai Bulan pasti diwarisi anak-anaknya.
Olo Langet menatap wajah kekasihnya tapi gelap malam dilihatnya. Olo Langet mencium wangi rambut Nai Bulan, tapi rintik hujan bulan Desember kala itu membasahi hidungnya.
Olo Langet tak beranjak dari duduknya, walau gerimis juga tak berhenti. Karena Olo tahu.
Jika dia bangkit, Nai Bulan akan lenyap dibawa angin malam. (*)
Penulis Bam
Editor Yakub
Tag



