ARUSBAWAH.CO - Bulan purnama di atas Tepian Mahakam, tempat sebagian besar anak anak muda Samarinda menghabiskan malam minggunya.
Di seberang jalan berdiri dengan kokohnya kantor gubernur setinggi 6 lantai, tertinggi pada masanya.
Sungai Mahakam tampak sesak malam itu. Dalam keremangan cahaya rembulan tampak lampu tugboat hilir mudik membawa ponton batubara. Kabarnya dibawa ke India, ada juga yang bilang ke Cina.
Seorang pengamen menyanyikan lagu 'Tepian Mahakam'. Sebuah lagu karangan ABC Djoka yang populer.
Tersohor seluruh Kalimantan
Kota perniagaan sejak dahulu kala
Kebanggaan bangsa indonesia
Sekali minum air Mahakam
Terpikat janji hati terpendam
Pasti kembali ke Samarinda sayang
Itulah bukti kesaktian Mahakam" begitu liriknya.
Olo Langet meneguk kopinya, angin di bulan Desember bertiup dengan lembut. Wangi rambut Nai Bulan yang duduk di samping terasa menyegarkan.
Nai Bulan putri Dayak Benuaq dari Kampung Benggeris, Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, sedang menikmati jagung rebusnya.
Dari samping pemuda berusia 26 tahun itu sangat mengagumi kecantikan pacarnya itu. Berkulit kuning Langsat dengan hidung mancung, seperti seorang bintang sinetron.
Sebuah kapal motor tampak melaju ke hulu. Olo Langet jadi ingat kampungnya.
Kampung Besiq berada paling ujung di Kecamatan Damai berbatas dengan provinsi Kalimantan Tengah.
Pagi berangkat dari pelabuhan sungai kunjang naik kapal motor 'Anugrah' sampai Muara Pahu di pagi hari. Masuk sungai Kedang Pahu. Senja baru sampai kampung Damai kota. Tidur semalam disitu, besoknya baru melanjutkan perjalanan naik ketinting selama 3 jam.
Kampung Besiq terkenal sebagai penghasil kayu Meranti Merah, Ulin, Ipil dan Bengkirai. Rotan dan Madu Hutan.
Olo Langet mudik setahun lalu, sekaligus melamar Nai Bulan. Satu Mandau pusaka warisan dari kakeknya diserahkan sebagai tanda keseriusan dan tekadnya menjadikan Nai Bulan sebagai istrinya.
Piring putih diberikan sebagai tanda ketulusan hatinya, dan satu stel pakaian dan kosmetika sebagai tanda siap bertanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga.
Nai Bulan menerima lamaran itu dengan memberikan pisau di atas piring putih dan satu stel pakaian wanita sebagai tanda kesiapan menjadi seorang istri.
Dengan disaksikan keluarga besar dan para kepala adat, kemudian dilanjutkan perundingan keluarga bahwa pernikahan akan dilaksanakan 6 bulan lagi.
Keduanya sudah pacaran selama 3 tahun. Nai Bulan bekerja sebagai perawat di rumah sakit Dirgahayu, sedangkan Olo Langet bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel mobil besar di jalan Antasari. Malamnya bekerja sebagai ojol.
Pengamen itu lewat, Olo Langet memberikan recehnya, tak lama kemudian pengamen berikutnya datang, Olo Langet segera
memberikan recehnya agar pengamen itu segera berlalu.
Tak lama kemudian datang lagi seorang pengamen. Pengamen pertama dan kedua Olo Langet tahu, anak muda itu memang selalu ngamen di situ.
Tapi pengamen ketiga, pemuda berambut gondrong dengan jaket kulit lusuh itu baru dilihatnya.
Bukan lagu yang dia bawakan, atau gitar yang dibawanya, tapi sebilah badik berkilau kena cahaya lampu dia keluarkan dari balik jaket nya.
"Jangan ribut, serahkan hp kalian berdua," kata lelaki kurus tinggi itu yang semula dikira pengamen. Ternyata seorang begal.
Olo Langet mendorong lelaki itu, dan menyuruh Nai Bulan berlari menjauh. Begal itu justru mengejar Nai Bulan, menusukkan pisaunya ke arah Nai Bulan. Nai Bulan tersungkur, begal itu langsung berlari ke seberang jalan, ke arah jalan Merbabu.
Olo Langet mengangkat Nai Bulan yang tersungkur. Darah mengalir deras dari dadanya yang terluka. Tak lama setelah sampai rumah sakit Dirgahayu, tempatnya bekerja, Nai Bulan menghembuskan nafas terakhirnya. Pisau itu menembus ulu hatinya.
Olo Langet menangis, Olo Langet marah.
Sudah setahun berlalu, pelaku pembunuh Nai Bulan belum juga dapat ditangkap. Olo Langet akhirnya, memutuskan mencarinya sendiri, lelaki tinggi kurus berambut panjang dengan jaket kulit yang lusuh.
Seluruh pelosok Samarinda dicarinya,
Pasar Pagi, Pasar Segiri, Pasar Sungai Dama, Pasar Merdeka, Pasar Kedondong, bahkan semua mal dijelajahinya.
Tiap malam nongkrong di Citra Niaga, bahkan semua hiburan malam dia datangi.
Pada malam purnama itu, sosok yang dicarinya setahun terakhir ini tampak. Seorang lelaki tinggi kurus berambut gondrong dengan jaket kulit lusuh tampak di dekat pelabuhan.
Tanpa pikir panjang Olo Langet mengeluarkan mandau kecil dari balik jaketnya, dipakainya menebas leher lelaki itu dari belakang.
Nai Langet puas, dendamnya terbalas, hutang darah terbalas sudah. Di kantor polisi ia mengakui semua perbuatannya. Polisi akhirnya melepaskan Nai Langet dari tuntutan hukum, setelah mendengar keterangan dua orang ahli dari rumah sakit jiwa Atma Husada, Selili. Nai Langet dinyatakan gila.
Lelaki yang ditebas, lehernya pakai Mandau itu, adalah seorang yang baru datang dari pulau seberang. Baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kota Samarinda.
Jika malam ini anda bertemu Nai Langet di tepian Mahakam, tepatnya depan kantor gubernur, pada kursi di sudut kanan itu Nai Langet nongkrong tiap bulan purnama.
Ada secangkir kopi panas dan beberapa jagung rebus diatas meja,serta kursi kosong disebelahnya.
Mbok Iyem, penjual makanan di situ paham, kursi itu tidak boleh orang lain duduk. Kursi itu khusus buat Nai Langet dan kekasihnya Nai Bulan.
Olo Langet sudah membangun rumah mungil dekat bandara AP Pranoto, semua itu hasil kerja kerasnya sebagai seorang mekanik dan ojol.
Rumah itu dia siapkan untuk ditinggali bersama Nai Bulan, calon istrinya itu. Dia ingin memiliki dua anak perempuan, karena kecantikan Nai Bulan pasti diwarisi anak-anaknya.
Olo Langet menatap wajah kekasihnya tapi gelap malam dilihatnya. Olo Langet mencium wangi rambut Nai Bulan, tapi rintik hujan bulan Desember kala itu membasahi hidungnya.
Olo Langet tak beranjak dari duduknya, walau gerimis juga tak berhenti. Karena Olo tahu.
Jika dia bangkit, Nai Bulan akan lenyap dibawa angin malam. (*)
Penulis Bam
Editor Yakub




