Pagi berangkat dari pelabuhan sungai kunjang naik kapal motor 'Anugrah' sampai Muara Pahu di pagi hari. Masuk sungai Kedang Pahu. Senja baru sampai kampung Damai kota. Tidur semalam disitu, besoknya baru melanjutkan perjalanan naik ketinting selama 3 jam.
Kampung Besiq terkenal sebagai penghasil kayu Meranti Merah, Ulin, Ipil dan Bengkirai. Rotan dan Madu Hutan.
Olo Langet mudik setahun lalu, sekaligus melamar Nai Bulan. Satu Mandau pusaka warisan dari kakeknya diserahkan sebagai tanda keseriusan dan tekadnya menjadikan Nai Bulan sebagai istrinya.
Piring putih diberikan sebagai tanda ketulusan hatinya, dan satu stel pakaian dan kosmetika sebagai tanda siap bertanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga.
Nai Bulan menerima lamaran itu dengan memberikan pisau di atas piring putih dan satu stel pakaian wanita sebagai tanda kesiapan menjadi seorang istri.
Dengan disaksikan keluarga besar dan para kepala adat, kemudian dilanjutkan perundingan keluarga bahwa pernikahan akan dilaksanakan 6 bulan lagi.
Keduanya sudah pacaran selama 3 tahun. Nai Bulan bekerja sebagai perawat di rumah sakit Dirgahayu, sedangkan Olo Langet bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel mobil besar di jalan Antasari. Malamnya bekerja sebagai ojol.
Pengamen itu lewat, Olo Langet memberikan recehnya, tak lama kemudian pengamen berikutnya datang, Olo Langet segera
memberikan recehnya agar pengamen itu segera berlalu.
Tak lama kemudian datang lagi seorang pengamen. Pengamen pertama dan kedua Olo Langet tahu, anak muda itu memang selalu ngamen di situ.
Tapi pengamen ketiga, pemuda berambut gondrong dengan jaket kulit lusuh itu baru dilihatnya.
Bukan lagu yang dia bawakan, atau gitar yang dibawanya, tapi sebilah badik berkilau kena cahaya lampu dia keluarkan dari balik jaket nya.
"Jangan ribut, serahkan hp kalian berdua," kata lelaki kurus tinggi itu yang semula dikira pengamen. Ternyata seorang begal.
Olo Langet mendorong lelaki itu, dan menyuruh Nai Bulan berlari menjauh. Begal itu justru mengejar Nai Bulan, menusukkan pisaunya ke arah Nai Bulan. Nai Bulan tersungkur, begal itu langsung berlari ke seberang jalan, ke arah jalan Merbabu.
Olo Langet mengangkat Nai Bulan yang tersungkur. Darah mengalir deras dari dadanya yang terluka. Tak lama setelah sampai rumah sakit Dirgahayu, tempatnya bekerja, Nai Bulan menghembuskan nafas terakhirnya. Pisau itu menembus ulu hatinya.
Olo Langet menangis, Olo Langet marah.
Sudah setahun berlalu, pelaku pembunuh Nai Bulan belum juga dapat ditangkap. Olo Langet akhirnya, memutuskan mencarinya sendiri, lelaki tinggi kurus berambut panjang dengan jaket kulit yang lusuh.
Tag



