Pada kondisi cuaca buruk sebelumnya, beberapa pedagang bahkan terpaksa menutup kios lebih cepat meski barang dagangan belum sampai rusak.
“Kemarin kami pilih tutup lebih cepat. Daripada ambil risiko air masuk ke kios,” ungkapnya.
Harapan Pedagang Jelang Ramadan
Situasi ini dinilai merugikan, terutama karena terjadi menjelang Ramadan, periode yang biasanya diharapkan mendongkrak perputaran ekonomi pedagang.
“Harapan kami sederhana, pasar ini bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Aman, nyaman, dan bisa menggerakkan ekonomi pedagang,” kata Kholif.
Ia menegaskan, gangguan teknis seperti kebocoran dan panas berlebih secara langsung menurunkan produktivitas usaha.
“Kalau ada gangguan seperti ini, usaha tidak bisa dimaksimalkan,” tegasnya.
Kholif, yang merupakan generasi kedua pedagang Pasar Pagi Samarinda, mengaku mulai menempati kios barunya setelah relokasi pada awal Januari 2026, tak lama setelah pembagian kunci pasca tahun baru.
“Saya pindah awal Januari, setelah pembagian kunci, langsung diarahkan menempati kios,” ujarnya.
Dengan pengalaman panjang berdagang di Pasar Pagi, ia berharap pasar baru tersebut bisa benar-benar menjadi ruang ekonomi yang layak.
Namun realitas di lapangan menunjukkan, persoalan mendasar justru muncul di awal operasional dan kini harus ditanggung pedagang secara mandiri. (isa)
Tag




