Arus Publik

Samarinda Terkini

Tempias Hujan di Pasar Pagi Samarinda, Pedagang 'Sokongan' Tambal Sendiri Jelang Ramadan

by:
Lisa
Selasa, 3 Februari 2026 18:9

Paranet yang dipasang mandiri oleh pedagang Pasar Pagi Samarinda/ Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Persoalan kebocoran dan tempias hujan di Pasar Pagi Samarinda kembali dikeluhkan pedagang.

Kondisi tersebut bahkan memaksa sebagian pedagang menutup kios lebih cepat demi menghindari kerugian, terutama jelang Ramadan yang seharusnya menjadi momentum peningkatan penjualan.

Salah satu pedagang, Kholif, mengungkapkan bahwa masalah teknis di pasar tersebut sebenarnya sudah berulang kali disampaikan kepada instansi terkait.

Namun hingga kini, belum terlihat penanganan konkret di lapangan.

“Kami sudah melaporkan kondisi pasar ke instansi terkait. Soal kebocoran, tempias hujan, sampai panas matahari sudah kami sampaikan. Tinggal kebijakan dari mereka,” ujar Kholif, Sabtu (31/1/2026) lalu. 

Panas dan Hujan Ganggu Aktivitas Dagang

Menurut Kholif, persoalan Pasar Pagi Samarinda tidak hanya soal air hujan yang masuk ke area kios.

Paparan panas matahari pada siang hingga sore hari juga berdampak langsung terhadap kualitas barang dagangan, khususnya pakaian.

“Kalau siang panasnya cukup ekstrem. Untuk pakaian, itu bisa bikin warna cepat pudar,” katanya.

Ia menjelaskan, para pedagang sebenarnya sudah membangun sistem komunikasi internal melalui grup per lantai.

Berbagai laporan, dokumentasi, hingga keluhan terkait kondisi pasar dihimpun dan dibagikan melalui grup tersebut.

“Kami punya grup pedagang per lantai. Semua data soal tempias dan kebocoran ada di situ. Kami hanya menyampaikan, tapi penanganannya tetap wewenang pihak terkait,” jelasnya.

 

Pedagang Pasang Paranet Pakai Dana Pribadi

Karena keluhan belum juga ditindaklanjuti, pedagang akhirnya mengambil langkah mandiri.

Salah satunya dengan memasang paranet untuk mengurangi panas matahari sekaligus meredam tempias hujan.

Pemasangan paranet tersebut dilakukan tanpa izin resmi karena dianggap bersifat darurat dan menyangkut kelangsungan usaha.

“Itu murni inisiatif sendiri, tanpa izin. Kalau hujan atau panas, kami tidak bisa berdagang. Jadi sejauh ini pakai modal sendiri,” tegas Kholif.

Ia menyebutkan, di beberapa lantai ada pedagang yang memilih iuran bersama, namun ada pula yang memasang paranet secara mandiri. Semua disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pedagang.

Meski bukan solusi ideal, paranet dinilai cukup membantu mengurangi dampak cuaca ekstrem di dalam pasar.

“Minimal tempiasnya berkurang dan panasnya tidak terlalu menyengat,” ujarnya.

Pembeli Ikut Terdampak

Kholif juga menyoroti bahwa kondisi panas berlebih tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga memengaruhi kenyamanan pembeli.

Meski belum ada keluhan langsung, situasi tersebut tetap dinilai mengganggu.

“Kalau panas, pembeli juga pasti tidak nyaman. Di kios saya, matahari dari arah barat, sekitar jam dua sampai tiga sore baru terasa langsung,” paparnya.

Pada kondisi cuaca buruk sebelumnya, beberapa pedagang bahkan terpaksa menutup kios lebih cepat meski barang dagangan belum sampai rusak.

“Kemarin kami pilih tutup lebih cepat. Daripada ambil risiko air masuk ke kios,” ungkapnya.

Harapan Pedagang Jelang Ramadan

Situasi ini dinilai merugikan, terutama karena terjadi menjelang Ramadan, periode yang biasanya diharapkan mendongkrak perputaran ekonomi pedagang.

“Harapan kami sederhana, pasar ini bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Aman, nyaman, dan bisa menggerakkan ekonomi pedagang,” kata Kholif.

Ia menegaskan, gangguan teknis seperti kebocoran dan panas berlebih secara langsung menurunkan produktivitas usaha.

“Kalau ada gangguan seperti ini, usaha tidak bisa dimaksimalkan,” tegasnya.

Kholif, yang merupakan generasi kedua pedagang Pasar Pagi Samarinda, mengaku mulai menempati kios barunya setelah relokasi pada awal Januari 2026, tak lama setelah pembagian kunci pasca tahun baru.

“Saya pindah awal Januari, setelah pembagian kunci, langsung diarahkan menempati kios,” ujarnya.

Dengan pengalaman panjang berdagang di Pasar Pagi, ia berharap pasar baru tersebut bisa benar-benar menjadi ruang ekonomi yang layak.

Namun realitas di lapangan menunjukkan, persoalan mendasar justru muncul di awal operasional dan kini harus ditanggung pedagang secara mandiri. (isa)

 

Tag

MORE