Saat diwawancarai, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menyebut seluruh tabrakan terjadi saat tidak ada aktivitas pemanduan kapal baik dari KSOP maupun Pelindo.
Artinya, tidak ada pengawalan resmi ketika kapal-kapal itu bergerak atau hanyut.
“Dalam satu tahun ini penabrakan jembatan sudah terjadi lima kali. Semua di luar pengolongan,” kata Seno kepada awak media, Senin, (26/1/2026).
Insiden Terjadi Dini Hari
Ia menjelaskan, mayoritas insiden terjadi sekitar pukul lima pagi.
Pada jam itu, kapal seharusnya dalam kondisi tambat, bukan bergerak mendekati jembatan.
“Jam lima pagi itu mereka tambat. Tapi arus kuat, tali putus, kapal meluncur sendiri. Akhirnya menabrak jembatan,” ujarnya.
Aset Publik Jadi Taruhan
Kata Seno, persoalan itu tidak bisa lagi dilihat sebagai sekadar masalah teknis pelayaran.
Yang dipertaruhkan adalah keselamatan publik dan aset negara.
“Kami tidak mempersoalkan soal pengolongan. Yang kami persoalkan jembatan. Ini dibangun dari uang rakyat,” tegasnya.
Daftar Rentetan Insiden Penabrakan
Insiden penabrakan pertama tercatat 16 Februari 2025 sore.
Dua bulan kemudian, 26 April 2025 malam, Jembatan Mahakam I kembali diseruduk.
Berlanjut pada 23 Desember 2025 pukul 05.00 Wita, giliran Jembatan Mahakam Ulu yang jadi korbannya.
Kemudian, insiden paling mencemaskan terjadi 4 Januari 2026 dini hari yakni dua tongkang batu bara hanyut dan tersangkut di tiang Jembatan Mahakam Ulu.
Terbaru, insiden kelima penabrakan jembatan Mahulu terjadi 25 Januari 2026 pukul 05.30 pagi.
Tag



