ARUSBAWAH.CO - Suara semprotan air bersahut-sahutan dengan dengung kompresor di sebuah usaha cuci motor di Jalan Suryanata, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu.
Semprotan air terus membasahi bodi motor yang silih berganti masuk ke tempat pencucian itu.
Siang itu, tiga orang pekerja sibuk menyemprot, menyabuni, dan mengelap motor pelanggan.
Linda Ariati (54) berdiri mengawasi pekerjaan teman-temannya.
Tanpa sepatah kata pun, ia menggerakkan kedua tangannya untuk memberi instruksi, lalu rekan-rekannya langsung memahami maksudnya.
Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Namun gerakan tangan itu langsung dipahami.
Linda Ariati (54) adalah penyandang tunarungu yang telah mengelola usaha cuci motor tersebut sejak 2013.
Seluruh pekerja yang membantunya juga merupakan penyandang tunarungu.
Linda menyambut Arusbawah.co dengan senyum hangat saat ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat ia mengelola usaha cuci motor.
Selama wawancara berlangsung, setiap gerakan bahasa isyarat yang ia sampaikan diterjemahkan oleh anak dan keponakannya.
Sejak 2013, tempat cuci motor itu menjadi saksi perjalanan hidup Linda.
Setelah ditinggal suaminya, ia memilih mempertahankan usaha tersebut, sekaligus menjadikannya tempat bekerja bagi teman-teman sesama penyandang tunarungu.
Berawal dari Almarhum Suami yang Bekerja di Tempat Cucian Motor
Usaha yang kini menjadi sumber penghidupan Linda ternyata tidak dibangun dari nol seorang diri.
Keponakan Linda bercerita, dulu almarhum suami Linda yang juga penyandang tunarungu bekerja di sebuah usaha pencucian motor milik orang lain.
Setelah cukup lama bekerja, pemilik usaha memberikan bantuan berupa satu unit mesin cuci motor.
Bantuan itulah yang kemudian menjadi modal awal keluarga mereka.
"Awalnya almarhum suami ikut kerja di tempat cucian motor orang. Setelah dapat bantuan mesin, baru buka usaha sendiri," ujar keponakan Linda menerjemahkan bahasa isyarat, Minggu (26/7/2026).
Sejak saat itu, Linda dan suaminya membuka usaha cuci motor di Jalan Suryanata.
Perlahan usaha tersebut mulai dikenal pelanggan sekitar.
Namun perjalanan itu tidak berlangsung lama bersama-sama.
Sang suami kemudian meninggal dunia.
Alih-alih menutup usaha yang sudah dirintis, Linda memilih meneruskannya.
Baginya, usaha itu bukan hanya peninggalan almarhum suami, tetapi juga menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga.
"Mulai usahanya sejak 2013. Dari anak terakhir belum lahir," ujarnya.
Membuka Pintu Bagi Sesama Penyandang Tunarungu
Ada satu hal yang membuat usaha Linda berbeda dibanding tempat cuci motor lainnya.
Tempat itu menjadi ruang bekerja bagi sesama penyandang tunarungu.
Awalnya hanya beberapa orang teman yang diajak membantu.
Lama-kelamaan jumlahnya bertambah.
Dalam sehari, biasanya ada dua hingga tiga orang yang datang bekerja.
Saat pelanggan sedang ramai, jumlah pekerja bisa mencapai empat orang. Kehadiran mereka pun tidak selalu tetap.
Tag



