Mulai dari Puncak Ketepu hingga kawasan gua prasejarah yang menyimpan lukisan telapak tangan manusia purba.
"Di sana ada Puncak Ketepu, ada gua-gua yang menyimpan tapak tangan prasejarah. Itu harus dijaga dan dilestarikan supaya lebih dikenal masyarakat luas," ujarnya.
Akses Infrastruktur Masih Menjadi Kendala
Namun di balik potensi besar tersebut, terdapat persoalan mendasar yang hingga kini belum tuntas, yakni akses infrastruktur.
Syarifatul mengaku pernah mengunjungi kawasan itu bersama Gubernur Kalimantan Timur.
Saat musim hujan, sebagian jalur menuju lokasi wisata bahkan nyaris tidak dapat dilalui kendaraan karena kondisi jalan yang berlumpur dan rusak.
"Kami pernah ke sana. Kalau hujan dan jalannya becek, tidak bisa dilalui sama sekali. Karena itu perlu dukungan anggaran agar akses menuju lokasi wisata dan geosite bisa dibenahi," katanya.
Fakta tersebut menjadi ironi tersendiri.
Di satu sisi Sangkulirang-Mangkalihat disebut-sebut sebagai salah satu kawasan karst paling penting di Indonesia.
Namun di sisi lain, akses menuju sejumlah lokasi unggulan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Target Tidak Berhenti di Geopark Nasional, Bidik UNESCO Global Geopark
Saat ini berbagai persiapan terus dilakukan menjelang verifikasi lapangan.
Seminar dukungan penetapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat bahkan telah digelar di Hotel Mesra Internasional Samarinda pada 17 Juni 2026.
Dalam forum tersebut, pemerintah daerah, organisasi nonpemerintah, akademisi dan masyarakat menyatakan optimistis kawasan tersebut mampu lolos dalam proses penilaian nasional.
Target pengembangan geopark juga tidak berhenti pada status nasional.
Setelah memperoleh pengakuan Geopark Nasional, kawasan ini akan dipersiapkan menuju UNESCO Global Geopark sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap kekayaan geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya yang dimiliki Sangkulirang-Mangkalihat.
Tag



