Arus Publik

Krisis Iklim

Suara dari Kaltim: XR Bunga Terung Desak Pemerintah Akhiri “Kecanduan” Batubara di Tengah Ramainya COP 30

Deforestasi pun masih tinggi

Minggu, 16 November 2025 14:53

AKSI - Aksi XR Bunga Terung Kaltim, desak pemerintah setop kecanduan batu bara. Kaltim paling banyak terima dampak negatif/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Di tengah hiruk-pikuk Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 30) di Belém, Brasil, ada suara yang tidak ikut terbang ke forum internasional, tetapi justru bergaung lebih keras dari tanah Kalimantan Timur (Kaltim).

Suara itu datang dari Yuni, aktivis Extinction Rebellion (XR) Bunga Terung Kaltim, yang menyebut proyek transisi energi Indonesia saat ini “lebih mirip kamuflase ketimbang solusi”.

COP 30 sedang dibahas dengan megah. Delegasi Indonesia berjumlah 450 orang, dipimpin Hashim Djojohadikusumo, membawa pesan bahwa Indonesia ingin mempercepat transisi energi, memperkuat energi terbarukan, dan menekan emisi.

Tetapi bagi Yuni, narasi besar itu tidak menyentuh akar persoalan di daerah seperti Kalimantan Timur—wilayah yang sejak lama memasok batu bara untuk negeri ini, tetapi juga memikul luka paling dalam akibat eksploitasi.

“Transisi energi hanya indah di kertas. Yang saya lihat di lapangan: hutan hilang, tambang makin luas.”

Bagi Yuni, 25 tahun, aktivisme bukan sekadar panggilan—tetapi pengalaman sehari-hari melihat kampung-kampung yang hilang, air yang keruh, dan bukit yang digantungi ceruk bekas tambang.

Ia menyebut proyek transisi energi yang diklaim ramah lingkungan hanyalah wajah baru dari industri ekstraktif.

“Kami terus diberi harapan bahwa transisi energi akan membawa masa depan hijau. Tapi kenyataannya, hutan Kaltim tetap dibabat, tambang tetap jalan, dan batu bara tetap jadi raja,” ujarnya.

Padahal pemerintah menggelontorkan dana besar—USD 25—30 miliar (sekitar Rp350—420 triliun) untuk transisi energi.

Namun Yuni menilai proyek itu justru menjadi dalih untuk membuka konsesi baru dan memperluas tambang mineral.

AKSI - Aksi XR Bunga Terung Kaltim, desak pemerintah setop kecanduan batu bara. Kaltim paling banyak terima dampak negatif/ HO to Arusbawah.co

 

Kaltim Tetap Jadi “Penjaga Api” Batu Bara

Data memperkuat kegelisahan Yuni: produksi batu bara Kaltim naik dari 268 juta ton (2020) menjadi 368 juta ton (2024)—menyumbang 44% produksi nasional.

Deforestasi pun masih tertinggi di Indonesia. Kaltim kehilangan 44.483 hektare hutan pada 2024; lebih dari 16.000 hektare di antaranya ada di Kutai Timur, sebagian besar akibat ekspansi tambang.

“Kalau sudah begini, bagaimana kami bisa percaya bahwa negara serius?” kata Yuni pelan, tetapi tegas.

 

Tiga Desakan XR Bunga Terung Kaltim

Atas dasar itu, Yuni bersama XR Bunga Terung Kaltim menyampaikan desakan keras kepada pemerintah:

  • Menghentikan ketergantungan pada energi fosil, termasuk pemasokan batu bara untuk smelter nikel dan industri-intensif lainnya.
  • Mengakhiri proyek transisi energi yang bersifat “tipu-tipu”, yang atas nama energi hijau justru mempercepat perusakan lingkungan dan mengorbankan masyarakat.
  • Menjamin partisipasi publik dengan hak veto, sehingga masyarakat dapat menghentikan proyek yang merusak ruang hidup.

Menurut Yuni, masa depan energi tidak bisa lagi diserahkan pada kepentingan bisnis dan politik.

Transisi energi harus adil, jujur, dan berpihak pada rakyat. Kalau tidak, itu bukan transisi—itu cuma perpindahan label.”

Yuni menutup penjelasannya  dengan satu kalimat yang pelan tapi menggigit:

“Bukan kami yang ekstrem. Yang ekstrem adalah terus menggali batu bara ketika dunia sudah terbakar," katanya. 

Suara itu tidak terdengar di ruang megah COP 30.

Tapi dari Kaltim, gema itu tetap menggetarkan: tuntutan untuk perubahan yang benar-benar berpihak pada bumi dan manusia yang tinggal di atasnya. (pra)

 

Tag

MORE