ARUSBAWAH.CO - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai kondisi yang dialami pengemudi ojek online (ojol) bukan sekadar persoalan individu, melainkan bagian dari ketimpangan ekonomi yang lebih luas dalam sistem kerja digital.
Dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026, CELIOS menyebut model bisnis platform digital membuat keuntungan lebih banyak terkonsentrasi di tingkat perusahaan dan investor, sementara beban kerja serta risiko justru ditanggung pengemudi.
Menurut laporan tersebut, narasi “fleksibilitas kerja” dan status “mitra” yang selama ini melekat pada pengemudi ojol dinilai menutupi persoalan ketimpangan struktural.
“Apa yang terlihat sebagai fleksibilitas dan kemitraan sebenarnya adalah bentuk baru dari ketimpangan struktural,” tulis laporan tersebut.
CELIOS menilai pengemudi tetap berada di bawah kontrol platform digital melalui sistem algoritma yang mengatur tarif, insentif, hingga distribusi order.
Pengemudi Disebut Menanggung Seluruh Risiko Kerja
Dalam kajian itu, CELIOS menyebut status “mitra” membuat perusahaan platform dapat menghindari berbagai kewajiban ketenagakerjaan seperti upah minimum, jaminan sosial, hingga perlindungan kerja.
Akibatnya, risiko pendapatan tidak pasti, biaya operasional kendaraan, hingga jam kerja panjang sepenuhnya ditanggung pengemudi.
Tag



