ARUSBAWAH.CO - Rumah Sakit Umum Daerah Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan meluncurkan empat inovasi layanan publik yang disebut lahir dari keresahan para wakil direkturnya terhadap persoalan-persoalan yang selama bertahun-tahun dibiarkan menumpuk.
Mulai dari minimnya pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), kebingungan pasien kecelakaan soal penjaminan, rapuhnya komunikasi pelayanan, hingga tingginya harga obat yang tak pernah bisa dinegosiasikan.
Empat inovasi itu adalah SI MANTAP, SIJAKA, KOMPAS, dan Holding Mahakam.
SDM Jadi Korban Prioritas Anggaran: “Kami Punya Alat, Tapi SDM-nya Tidak Siap”
Inovasi pertama datang dari Wakil Direktur SDM, Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian RSKD, Novita Retno Damayanti, lewat proyek bernama SI MANTAP.
Ia menyampaikan bahwa ide itu lahir dari ketimpangan antara tuntutan regulasi dan kemampuan rumah sakit memenuhi kewajiban pengembangan kompetensi pegawai.
Novita menilai pengembangan SDM selama bertahun-tahun berada di posisi non-prioritas.
Saat alat kesehatan modern terus diadakan, pegawai justru tertinggal dalam kompetensi yang diwajibkan undang-undang.
“Ada kewajiban mendasar dalam undang-undang ASN bahwa setiap pegawai wajib mendapat pengembangan kompetensi terus–menerus,” katanya.
“Masalahnya, pengembangan SDM selama ini bukan prioritas utama. Padahal alat secanggih apa pun tidak akan bisa jalan kalau SDM-nya tidak siap.”
Ia menjelaskan, setelah dilakukan pemetaan internal, RSKD justru menemukan potensi besar yang selama ini terabaikan, yaitu 50 instruktur internal yang sudah biasa dipakai lembaga lain untuk pelatihan.
Ada 16 jenis pelatihan yang selama ini dikirim keluar, memakan biaya besar untuk transportasi, akomodasi, dan kontribusi.
Dengan SI MANTAP, pelatihan dilakukan di dalam rumah sendiri.
“Dengan kemandirian, kami bisa lebih efisien dan menjadi wadah pelatihan untuk rumah sakit sekitar,” ujarnya.
“Kami baru mendapat surat dari Kemenkes, ditunjuk sebagai salah satu dari 20 rumah sakit di Indonesia yang disiapkan menjadi pengampu pengembangan kompetensi," lanjutnya.
SIJAKA: Jalan Pintas Pelaporan Kecelakaan Lalu Lintas
Inovasi kedua, SIJAKA, digagas Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSKD Rosjidah Rahmawati.
Sistem ini lahir dari keluhan masyarakat, yaitu pasien kecelakaan merasa sudah punya BPJS, tetapi tidak ditanggung karena kategori kasusnya berbeda.
Persoalannya satu yaitu, pasien kecelakaan harus memiliki laporan polisi, sementara mayoritas pasien datang ke IGD tanpa sempat melapor.
“Kami berkolaborasi dengan kepolisian, Jasa Raharja, BPJS Ketenagakerjaan, dan BPJS Kesehatan,” jelas Rosjidah.
“Pasien kecelakaan itu dibawa dulu ke rumah sakit, bukan ke kantor polisi. Jadi pelaporan harus dibuat lebih cepat.” tambahnya.
SIJAKA membuat proses pelaporan dilakukan langsung dari rumah sakit.
RSKD menempatkan Sahabat Laka yang mendampingi keluarga, membuatkan laporan melalui aplikasi, dan mengirim data ke kepolisian secara real-time.
“Aplikasi ini menangkap dulu pasiennya, merawat dulu, dan laporan dibuat dari rumah sakit,” katanya.
“Kalau bukan tanggungan Jasa Raharja, maka BPJS akan dapat notifikasi. Semuanya otomatis.” lanjutnya.
Ia berharap SIJAKA menjadi standar layanan kecelakaan di seluruh rumah sakit Kaltim.
KOMPAS: Menutup Celah Komunikasi yang Menghancurkan Layanan
Inovasi ketiga, KOMPAS, lahir dari evaluasi yang dilakukan Wakil Direktur Medik dan Keperawatan Arisanti.
Arisanti menilai banyak keluhan masyarakat bukan muncul dari pelayanan klinis, tetapi dari komunikasi yang buruk, mulai dari dokter, perawat, administrasi, sampai petugas kebersihan.
“Pelayanan kami sebenarnya sudah bagus. Tapi satu kalimat yang tidak menyenangkan bisa membuat semuanya terlihat buruk,” tegasnya.
Untuk itu RSKD membentuk Tim Komunikasi Krisis, yang mendapat pelatihan intensif dari John Robert Power.
KOMPAS menyediakan kanal pengaduan digital, yang memungkinkan pasien melihat langsung progres penyelesaian keluhannya, mulai dari level instalasi hingga direksi.
“Kami memberi grading: hijau, kuning, merah. Kalau hijau selesai di unit. Kalau merah, direksi yang turun tangan,” ujarnya.
“Ini soal menghormati pasien. Mereka datang ke rumah sakit karena sedang punya masalah.” tambahnya.
Selain kanal pengaduan, SOP komunikasi juga direvisi dan sedang disosialisasikan ke seluruh unit, dengan target pelatihan berjenjang untuk 2.040 pegawai RSKD.
Holding Mahakam: Benahi Disparitas Harga Obat Antar Rumah Sakit
Inovasi terakhir, Holding Mahakam Bersama Sehat Setara, digagas Wakil Direktur Penunjang sekaligus Plt Direktur RSKD, Ahmad Jais.
Ide ini lahir dari temuan Kemenkes terkait disparitas harga obat antar rumah sakit adanya perbedaan yang menurutnya tidak masuk akal.
“Kalau rumah sakit memesan sendiri-sendiri, harganya akan bervariasi. Tapi kalau dikonsolidasikan, permintaan besar memberi bargaining kuat ke distributor,” kata Jais.
Pilot project dimulai antara RSKD Balikpapan dan RSUD AWS Samarinda untuk 10 jenis obat paling sering digunakan dan paling tinggi anggarannya.
Nantinya skema ini akan memiliki payung hukum berupa pergub.
“Output-nya harga obat terbaik, distribusi terintegrasi, waktu tunggu obat lebih singkat, dan harga lebih terjangkau untuk pasien umum,” tutupnya.
(wan)




