Di tengah bencana yang sering disederhanakan menjadi angka dan laporan, dialog sastra membuka kemungkinan lain: memahami alam juga membutuhkan keheningan, metafora, dan keberanian mendengar yang tak diucapkan.
Menurut Rahmad, mungkin yang kita butuhkan bukan jawaban atas bencana, melainkan bahasa yang cukup jujur untuk mengakuinya.
Seraung menunjukkan bahwa seni, terutama sastra, bisa menjadi cara manusia belajar kembali membaca alam—bukan sebagai teks yang dieksploitasi, tapi sebagai kitab yang harus dihormati.
"Selama puisi masih dibacakan dan dialog masih diupayakan, harapan untuk menjaga relasi manusia-alam tetap hidup," pungkasnya. (red)
Baca juga:
- Memanusiakan Manusia Lewat Lukisan, Seniman Kaltim Ini Lelang Karya untuk Korban Banjir Aceh dan Sumatera
- Cerita Syarli Baizura, Gadis Samarinda yang Pernah ke Disneyland Hongkong Karena Juara, Kini Jadi Juara 1 Lagi Kaligrafi Nasional
- 28.000 Penonton Meriahkan Pagelaran Sabang Merauke 2025: Hanya Indonesia yang Punya “Hikayat Nusantara”
Tag




