ARUSBAWAH.CO - Bencana alam kerap dipandang sekadar peristiwa.
Namun, dalam sebuah diskusi sastra "Seraung", Dr. Rahmad Azazi Rhomantoro, pendiri Tirtonegoro Foundation, mengajak kita melihatnya sebagai “kalimat panjang alam” yang hilang tanda bacanya akibat intervensi manusia.
Dari perspektif itu, Seraung hadir bukan sekadar festival seni, melainkan ruang refleksi untuk membuka kembali pertanyaan paling purba: bagaimana manusia membaca alam, dan dengan bahasa apa ia meresponsnya.
"Seraung memadukan sastra, teater, musik, tari, dan film dalam satu lingkar kepedulian."
"Tetapi yang lebih penting adalah temu kesadaran," ulasnya.
Seni di sini bukan sekadar ornamen empati, melainkan medium etika yang bekerja di lapisan terdalam nalar dan rasa, tempat manusia merumuskan kembali hubungannya dengan dunia yang rapuh.
Dialog sastra yang ia pandu bersama Misman dan Dadang menjadi poros penting.
Misman memandang puisi sebagai arsip emosional alam—larik yang patah ketika gunung runtuh atau sungai meluap, metafora yang kehilangan rujukan.
Sementara Dadang menekankan dimensi struktural: bahasa manusia tumbuh dari ekologi yang melingkupinya, dan kerusakan lingkungan bukan hanya tragedi ekologis, tapi juga krisis semiotik.
Puisi dalam Seraung bukan sekadar artefak estetik.
Ia menjadi praksis etis, cara manusia menegosiasikan kembali posisinya di hadapan alam yang terluka.
Penyair berdiri di antara manusia dan alam, menjaga agar percakapan keduanya tetap hidup.
Di sini, puisi menjadi bentuk pengetahuan alternatif—tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kesediaan untuk mendengar.
Seraung menyediakan ruang kontemplasi, bukan slogan.
Di tengah bencana yang sering disederhanakan menjadi angka dan laporan, dialog sastra membuka kemungkinan lain: memahami alam juga membutuhkan keheningan, metafora, dan keberanian mendengar yang tak diucapkan.
Menurut Rahmad, mungkin yang kita butuhkan bukan jawaban atas bencana, melainkan bahasa yang cukup jujur untuk mengakuinya.
Seraung menunjukkan bahwa seni, terutama sastra, bisa menjadi cara manusia belajar kembali membaca alam—bukan sebagai teks yang dieksploitasi, tapi sebagai kitab yang harus dihormati.
"Selama puisi masih dibacakan dan dialog masih diupayakan, harapan untuk menjaga relasi manusia-alam tetap hidup," pungkasnya. (red)
- Memanusiakan Manusia Lewat Lukisan, Seniman Kaltim Ini Lelang Karya untuk Korban Banjir Aceh dan Sumatera
- Cerita Syarli Baizura, Gadis Samarinda yang Pernah ke Disneyland Hongkong Karena Juara, Kini Jadi Juara 1 Lagi Kaligrafi Nasional
- 28.000 Penonton Meriahkan Pagelaran Sabang Merauke 2025: Hanya Indonesia yang Punya “Hikayat Nusantara”




