Misman memandang puisi sebagai arsip emosional alam—larik yang patah ketika gunung runtuh atau sungai meluap, metafora yang kehilangan rujukan.
Sementara Dadang menekankan dimensi struktural: bahasa manusia tumbuh dari ekologi yang melingkupinya, dan kerusakan lingkungan bukan hanya tragedi ekologis, tapi juga krisis semiotik.
Puisi dalam Seraung bukan sekadar artefak estetik.
Ia menjadi praksis etis, cara manusia menegosiasikan kembali posisinya di hadapan alam yang terluka.
Penyair berdiri di antara manusia dan alam, menjaga agar percakapan keduanya tetap hidup.
Di sini, puisi menjadi bentuk pengetahuan alternatif—tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kesediaan untuk mendengar.
Seraung menyediakan ruang kontemplasi, bukan slogan.
Tag



