ARUSBAWAH.CO - Hari Raya Nyepi kerap dimaknai sebagai momentum penyucian diri dan alam.
Tapi di Kutai Kartanegara (Kukar), makna itu terasa lebih kompleks.
Bukan cuma soal hening dan ritual, tapi juga tentang seberapa jauh umat masih terlibat, dan sejauh mana negara benar-benar hadir.
Rangkaian Nyepi dan Makna Penyucian Diri
Nyepi adalah penanda Tahun Baru Saka dalam kalender umat Hindu.
Rangkaian ritualnya panjang dimulai dari Melasti, Mecaru, Pengerupukan, lalu puncaknya Nyepi, hingga ditutup Ngembak Geni.
Semua proses itu pada dasarnya untuk membersihkan diri, lahir dan batin, sebelum masuk ke tahun yang baru.
Saat Nyepi tiba, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian.
Tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak menyalakan api, juga tidak mencari hiburan.
Suasana benar-benar dibuat sunyi.
Di situlah ruang refleksi dibuka semacam evaluasi diri, meditasi, sampai dibuat reset hidup.
- Seno Aji Jelaskan Rinci Anggaran Rumah Dinas, Tegaskan Bukan Fasilitas Pribadi
- Saksi Tidur, Tak Ada yang Melihat Tapi Ada Tersangka, JATAM Kaltim Ajukan Sahabat Pengadilan Kasus Kriminalisasi Terhadap Misran Toni
- Eks Puskib Balikpapan Disiapkan Jadi Sumber Uang Baru Daerah, Seno Aji: 'Bisa Apartemen, Bisa Mal, Tergantung RTRW'
Data Umat di Kerta Buana: Ribuan Ada, Ratusan yang Aktif
Tapi di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, cerita Nyepi tidak berhenti di situ.
Jumlah umat Hindu di desa itu disebutkan lebih dari 2.000 kepala keluarga.
Namun disebut yang aktif ikut kegiatan adat hanya sekitar 411 kepala keluarga.
Selisihnya jauh dan itu bukan sekadar angka, tapi tanda bahwa ada yang mulai renggang dalam praktik beragama di tingkat komunitas.
Mayoritas warga di sana adalah transmigran asal Bali yang datang sejak 1980-an.
Mereka membawa tradisi, membangun pura, dan menjaga ritual termasuk pembuatan ogoh-ogoh yang masih rutin dilakukan menjelang Nyepi.
Tapi seiring waktu, keterlibatan itu tidak sepenuhnya diwariskan.
Pura di desa itu pun sudah berusia sekitar 45 tahun.
Masih berdiri, masih dipakai, tapi belum sepenuhnya rampung.
Ada kebutuhan yang belum selesai, baik secara fisik maupun sosial.
Seno Aji Datang, Dukung Kerukunan
Kondisi itulah jadi latar saat Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, datang menghadiri Dharma Santi Nyepi Tahun Saka 1948 di Pura Paso Pati, Jumat (3/4/2026).
Ia hadir bersama istrinya, Wahyu Seno Aji.
Tapi yang menarik bukan sekadar kehadirannya, melainkan apa yang orang nomor dua di kaltim itu singgung.
“Kami memberi perhatian agar umat Hindu di Kaltim tetap menjaga kerukunan antarumat beragama di Kukar,” kata Seno kepada awak media usai acara.
Kalimat itu terdengar normatif.
Tapi kalau ditarik ke kondisi di lapangan minimnya partisipasi umat, hingga pembangunan pura yang belum tuntas, hal itulah yang menjadi perhatian khusus Seno Aji.
Seno juga memuji toleransi umat beragama di desa Kerta Buana.
“Mudah-mudahan umat Hindu di Kaltim makin sejahtera, bahagia, dan tetap mengutamakan gotong royong,” ujarnya.
Dharma Santi Nyepi Jadi Ruang Refleksi Bersama
Dharma Santi sendiri merupakan puncak rangkaian Nyepi semacam ruang refleksi bersama setelah hari sunyi.
Acara itu diisi tabuhan Seke Gong Candra Kirana, lagu Indonesia Raya, tari penyambutan, pembacaan Sloka, hingga Dharma Wacana oleh Romo Mangku Sukardi.
(wan)




