Arus Publik

Sastraloka 2025: Saat Puisi Tak Lagi Sekadar Kata, tapi Ruh yang Hidup di Kalimantan Timur

Selasa, 14 Oktober 2025 10:32

FOTO BERSAMA - Foto bersama saat pembukaan SastraLoka 2025 di Samarinda pada Jumat, 10 Oktober 2025/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Dalam rangkaian kegiatan Sastraloka 2025, Tirtonegoro Foundation menggelar Lokakarya Penulisan Puisi bertema “Korrie, dan Membaca Tragedi dalam Tubuh Puisi.”

Kegiatan ini berlangsung di Samarinda dan menghadirkan Novan Leany sebagai narasumber utama, dengan peserta dari berbagai komunitas sastra Kalimantan Timur.

Novan Leany: Menulis Puisi Adalah Menyelami Tubuh dan Ruh Bahasa

Dalam paparannya, Novan Leany menegaskan bahwa menulis puisi bukan sekadar bermain kata, melainkan proses mendalam untuk menyelami tubuh dan ruh bahasa.

Ia mengutip pandangan Iman Budhi Santosa yang mengatakan, “Menulis puisi itu tidak sulit, tetapi menjadi penyair tidak gampang.”

Menurut Novan, penyair sejati adalah mereka yang mampu menggali pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual dari kehidupan pribadi maupun sosialnya.

Ia menjelaskan bahwa kekuatan puisi terletak pada kesadaran terhadap bahasa, bunyi, imaji, dan makna.

“Puisi yang baik bukan hanya enak dibaca, tetapi juga meninggalkan gema dalam diri pembaca,” ujarnya.

Eksplorasi Teknik dan Unsur Puisi

Novan juga memperkenalkan berbagai teknik penulisan puisi seperti akrostik, pararima, naratif, dan aliterasi, lengkap dengan contoh dari penyair nasional seperti Aan Mansyur, Rustam Effendi, dan Goenawan Mohamad, serta karya Korrie Layun Rampan dari Kalimantan Timur.

Ia menekankan pentingnya penggunaan metafora, personifikasi, simile, dan repetisi untuk memperkaya bahasa dan memperdalam makna.

Selain itu, unsur-unsur seperti diksi, tema, nada, dan suasana disebutnya sebagai bagian penting dalam membangun pengalaman emosional pembaca.

 

Menggali Imajinasi Kultural Kalimantan Timur

Dalam konteks lokal, Novan mengajak para peserta untuk berani mengeksplorasi imajinasi kultural Kalimantan Timur, mulai dari kehidupan di tepian sungai, hutan, ritual adat, hingga kisah masyarakat pesisir.

“Sungai, hutan, dan hantu adalah tiga entitas yang saling terkait dalam kebudayaan kita. Semua itu bisa menjadi bahan imajinatif yang kuat,” tutur Novan.

Lokakarya ini ditutup dengan pembacaan puisi “Riwayat Puisi Ini” karya Hasta Indriana, yang menyampaikan pesan tentang merawat puisi sebagai sesuatu yang lembut namun berdaya.

Tirtonegoro Foundation Tegaskan Komitmen untuk Sastra Daerah

Penggagas Sastraloka 2025, Rahmad Azazi Rhomantoro, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta dan kontribusi narasumber.

Ia menegaskan bahwa Sastraloka hadir sebagai wadah untuk menumbuhkan kembali kesadaran sastra di Kalimantan Timur.

“Puisi bukan sekadar karya, tetapi ruang refleksi dan pembacaan terhadap kehidupan. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menciptakan ekosistem sastra yang berkelanjutan bagi penulis muda dan sastrawan daerah,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Tirtonegoro Foundation menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan penulis dan penyair baru yang peka terhadap budaya, mencintai tanah kelahiran, dan sadar terhadap perubahan zaman. (media partner)

Di agenda ini, Arusbawah.co turut menjadi media partner. 

 

Tag

MORE