ARUSBAWAH.CO - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud tak hanya mencopot Muhammad Yamin dari Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Bankaltimtara).
Perombakan besar juga menyasar tiga pejabat strategis lain di tubuh bank pelat merah tersebut.
Mereka adalah Direktur Kredit Siti Aisyah, Direktur Operasional dan Manajemen Risiko Yenny Israwati, serta Komisaris Utama Independen Eny Rochaida.
“Pergantian dirut Bankaltimtara ataupun direksinya maupun komisarisnya,” ungkap Rudy Mas’ud saat diwawancarai Arusbawah.co, Senin (30/3/2026).
Pemprov Kaltim sebagai pemegang saham mayoritas yakni 64,51 persen memutuskan untuk merombak seluruh jajaran kunci bank daerah tersebut.
Namun hingga kini, pemerintah provinsi baru mengumumkan kandidat pengganti untuk kursi Direktur Utama.
Dua nama yang muncul adalah Romy Wijayanto dan Amri Mauraga.
Keduanya diusulkan sebagai calon Direktur Utama dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025 yang digelar di Harum Resort Balikpapan, Kamis (5/3/2026).
Mereka disiapkan menggantikan Muhammad Yamin, meski masa jabatannya sejatinya masih tersisa hingga 2028.
Kedua kandidat tersebut disebut telah melewati uji kelayakan dan kepatutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim.
Namun, sampai sekarang belum ada keputusan final siapa yang akan ditetapkan sebagai Direktur Utama definitif.
“Semua orang boleh mendaftar, enggak ada masalah. Yang penting dia profesional, akuntabel, dan yang penting itu punya kompetensi,” tegas Rudy.
Sementara itu, posisi Komisaris Utama Independen, Direktur Kredit, serta Direktur Operasional dan Manajemen Risiko masih belum diumumkan penggantinya.
Dicopot Sebelum Masa Jabatan Berakhir
Pencopotan Muhammad Yamin disebut menjadi persoalan.
Dilihat dari buku tahunan Bankaltimtara 2025, Ia saat ini tengah menjalani periode kedua sebagai Direktur Utama untuk masa jabatan 2024–2028.
Muhammad Yamin diangkat kembali melalui RUPS pada 5 April 2024 dan ditetapkan lewat SK Gubernur Kaltim Nomor 100.3.3.1/K.245/2024.
Dengan keputusan itu, Muhammad Yamin harus meninggalkan jabatannya sekitar dua tahun lebih cepat.
Padahal, ia merupakan figur internal yang meniti karier panjang di Bankaltimtara.
Lahir di Pare-pare pada 1967 dan berdomisili di Samarinda, Yamin merupakan lulusan Ekonomi/Manajemen Universitas Mulawarman (1991).
Ia pernah menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Pemimpin Cabang Tenggarong, Balikpapan, hingga Jakarta.
Ia juga pernah menjabat Pemimpin Divisi Kredit Korporasi, Divisi Pengendalian dan Penyelamatan Kredit, hingga akhirnya menjadi Direktur Operasional sebelum dipercaya sebagai Direktur Utama.
“Bankaltimtara ini bank besar loh, bukan bank kaleng-kaleng. Jadi orangnya harus betul-betul qualified,” ujar Rudy.
Seluruh Posisi Strategis Diganti
Data yang dihimpun redaksi Arusbawah.co memperlihatkan, empat posisi yang kini dikosongkan memang masuk dalam daftar penjaringan calon pengurus yang dibuka sejak 26 September 2025 oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).
Dilihat dari postingan Instagram @lppi_id, penjaringan itu berlangsung hingga 10 Oktober 2025 melalui skema executive search.
Posisi yang dibuka meliputi Komisaris Utama Independen, Direktur Utama, Direktur Kredit, serta Direktur Operasional dan Manajemen Risiko.
Empat nama yang akan dicopot sesuai dengan posisi tersebut.
Selain Muhammad Yamin, Siti Aisyah menjabat Direktur Kredit periode 2022–2025, Yenny Israwati sebagai Direktur Operasional dan Manajemen Risiko periode 2023–2027, serta Eny Rochaida sebagai Komisaris Utama Independen periode 2024–2025.
Siti Aisyah, kelahiran Samarinda 1967, merupakan lulusan manajemen dari STIE Muhammadiyah Samarinda.
Ia memiliki rekam jejak panjang di bidang kredit dan pernah memimpin sejumlah divisi, termasuk kredit UMKM dan treasury.
Kemudian, Yenny Israwati, kelahiran 1977, memiliki latar belakang akuntansi dari Universitas Gadjah Mada serta gelar magister komputer dari Universitas Bina Nusantara.
Ia berpengalaman di bidang audit, perpajakan, hingga manajemen risiko.
Sementara Eny Rochaida, akademisi senior kelahiran 1960, dikenal sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman sejak 1987.
Ia juga pernah memimpin berbagai program studi dan lembaga di kampus tersebut.
Minimnya Putra Daerah Dipersoalkan Rudy Mas’ud
Seleksi Terbuka, Tapi Kandidat Lokal Gugur
Di balik proses seleksi yang disebut terbuka, Rudy Mas’ud justru mempersoalkan minimnya partisipasi putra daerah.
“Itu yang masalah. Kenapa putra daerah enggak ada yang mendaftar? Kan sudah dibuka secara umum. Ke mana putra daerah kita ini jangan tanya ke kita dong,” katanya.
Rudy Mas’ud menyebut Pemprov Kaltim tidak menutup akses.
Justru, menurutnya, proses seleksi sudah dilakukan secara terbuka dan transparan.
“Yang salah kalau kami tidak membuka pendaftaran itu,” lanjutnya.
Kata Rudy Mas’ud, ada beberapa putra daerah yang mendaftar, Namun disebutnya mereka tidak lolos dalam tahapan seleksi panitia.
“Masa yang mendaftar orang dari luar? Ada sih dari putra daerah tetapi di dalam seleksi di pansel itu gugur,” pungkasnya.
(wan)




