ARUSBAWAH.CO - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud mengungkapkan keluhannya atas persoalan banjir yang kian parah di Kalimantan Timur.
Ia menyebut, kondisi ini sudah mengganggu aktivitas warga hingga membuatnya frustrasi.
Keluhan itu disampaikan langsung saat ia mendatangi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Jakarta belum lama ini.
Rudy Mas’ud Sebut Banjir Kaltim Bukan Sekadar Hujan
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @h.rudymasud, Rudy Mas’ud secara terbuka mengeluhkan kondisi banjir di Kalimantan Timur yang kian parah setiap tahun.
Ia menilai persoalan ini bukan sekadar rutin hujan, tapi sudah menjadi masalah struktural.
“Karena masalahnya kalau banjir aduh repot saya, yang jadi babak belur kami yang menjadi tempat sambal,” ujarnya dalam pertemuan dengan Dirjen Kementerian Perhubungan itu.
Rudy kemudian menambahkan bahwa latar belakang pekerjaannya dulu di laut membuatnya paham bagaimana sungai dan air harus dikendalikan.
“Inilah makanya Pak Dirjen hari ini saya ingin menyampaikan, kalau saya memang kerjaan saya dulu di laut,” lanjutnya.
Ia menegaskan, persoalan banjir bukan hanya saat hujan deras.
Menurut Rudy, banjir bahkan terjadi tanpa hujan sama sekali.
“Karena begitu dia meluap, ini tidak hujan pun. Izin Pak Dirjen, banjir,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa air pasang yang tinggi bisa menjadi bencana tersendiri jika ditambah curah hujan.
“Tidak hujan banjir. Air pasang tinggi, kan. Kalau tambah hujan selesai aku dibikinnya pingsan saya dibikinnya,” kata Rudy lagi.
Solusi Dari Rudy: Normalisasi dan Pengerukan Sungai Mahakam
Rudy berharap pemerintah pusat dapat memberikan arahan teknis maupun non-teknis untuk menormalisasi alur sungai agar banjir bisa ditangani lebih cepat.
Lebih lanjut, saat dikonfirmasi wartawan soal agenda kunjungannya, Rudy menegaskan maksud kedatangannya ke kementerian soal mencari solusi nyata untuk mengatasi banjir di Kaltim.
Menurut Rudy, solusi paling rasional dan teknis untuk menekan banjir adalah dengan melakukan pengerukan menyeluruh di Sungai Mahakam yang panjang 980 KM.
“Saya tidak di Kemenhub, tetapi saya menyampaikan kepada Kemenhub agar Kalimantan Timur ini bisa keluar dari banjir. Salah satunya adalah solusinya mengeruk Sungai Mahakam,” jelas Rudy saat diwawancara wartawan Arusbawah.co pada Senin (27/10/2025).
Ia menegaskan, Sungai Mahakam sudah hampir 20 tahun tidak pernah dikeruk, sehingga aliran sungai menjadi tersumbat dan tidak mampu menampung debit air saat hujan tinggi atau air pasang.
Menurut Rudy, normalisasi sungai harus dilakukan agar banjir cepat surut dan tidak menelan korban.
“Supaya kita di sini tidak banjir mulai dari Mahakam Hulu, Kutai Barat, Kutai Timur, termasuk Kutai Kartanegara dan Samarinda. Begitu hujan apalagi volumenya tinggi, langsung banjir. Bukan karena tidak ada pembuangannya, tapi aliran sungai kita ini perlu dilaksanakan normalisasi supaya cepat banjirnya cepat surut,” pungkasnya.
(wan)




