Ia menekankan bahwa setiap petugas harus memahami perannya dalam situasi darurat, karena respons awal yang cepat dapat menjadi faktor penentu keselamatan pasien.
Evaluasi pelatihan dilakukan melalui pengukuran peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta.
Metode yang digunakan meliputi pre-test dan post-test serta simulasi praktik langsung, seperti teknik kompresi dada yang sesuai standar.
Hasil evaluasi ini menjadi dasar untuk pengembangan program pelatihan selanjutnya.
Ke depan, pelatihan Bantuan Hidup Dasar akan dikembangkan sebagai program berkelanjutan melalui pelatihan ulang, simulasi rutin, serta drill kegawatdaruratan di seluruh unit layanan.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga konsistensi kompetensi tenaga non-medis sekaligus memperkuat sistem respons darurat di lingkungan rumah sakit.
Kesimpulannya, pelatihan teknis Bantuan Hidup Dasar menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas SDM non-medis dalam menghadapi kegawatdaruratan.
Upaya ini mempertegas bahwa keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesiapan, keterampilan, dan koordinasi di seluruh lini rumah sakit. (sobizz/naa)




