ARUSBAWAH.CO - Program bus sekolah gratis yang digagas Pemerintah Kota Samarinda menuai beragam reaksi dari siswa dan kepala sekolah.
Meski di atas kertas dianggap mampu mengurangi kecelakaan pelajar dan kemacetan, implementasi di lapangan dipandang masih penuh tantangan.
Komentar Siswa: Antara Harapan dan Keraguan
Dinda (nama samaran), siswi kelas XI sebuah SMA Negeri di Samarinda, mengaku ide bus gratis sangat baik, namun ia ragu dengan kesiapan teknis.
“Ide bagus, tapi kalau gratis pasti ada kendala. Busnya terbatas, rutenya bisa tidak efisien, dan kalau macet bisa terlambat semua,” ujarnya, Sabtu (4/10/2025).
Ia juga menyoroti biaya operasional jangka panjang yang bisa membebani pemerintah.
“Kadang program awalnya semangat, tapi lama-lama hilang karena biaya tinggi,” tambahnya.
Sementara rekannya dari kelas XII justru melihat sisi positif.
Menurutnya, bus gratis bisa jadi penyelamat bagi siswa yang tidak punya kendaraan pribadi.
“Selain hemat, juga lebih aman, karena banyak siswa belum cukup umur tapi tetap naik motor ke sekolah,” ucapnya.
Namun, siswa SMA Negeri 1 Samarinda mengingatkan soal keterbatasan armada dan titik penjemputan.
“Jumlah siswa ribuan, pasti bus tidak cukup. Belum lagi kalau kami diturunkan jauh dari sekolah,” katanya.
Tag



