Dominasi investor dari Negeri Tirai Bambu ini dinilai menjadi peluang penting untuk mempercepat diversifikasi ekonomi daerah.
Tren terbaru dalam aliran investasi ke Kaltim menunjukkan pergeseran fokus investor dari sektor ekstraktif seperti batu bara ke sektor-sektor yang ramah lingkungan, sejalan dengan tren global terkait emisi rendah dan energi bersih.
“Yang paling diminati investor, terutama dari Tiongkok, adalah Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya proyek-proyek kelistrikan,” ujar Fahmi.
Selain sektor EBT, peternakan ayam juga mulai menarik perhatian investor, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan regional.
Keduanya menjadi indikator bahwa sektor hijau dan pangan kini memiliki peran penting dalam peta investasi Kaltim.
Perubahan prioritas ke sektor berkelanjutan ini dianggap langkah strategis bagi Kaltim, yang selama ini lebih bergantung pada sektor pertambangan.
Dengan angka investasi yang mencapai puluhan triliun rupiah, Kaltim berada pada jalur yang lebih siap untuk transformasi ekonomi jangka panjang.
Tag



