Arus Publik

Profil PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra, Perusahaan Harus Bayar Rp 27 Miliar untuk Perbaikan Fender Jembatan Mahakam

Ini Profil Perusahaan Penabrak Jembatan Mahakam

Jumat, 9 Januari 2026 19:13

​Direktur PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra, Bagio/Kolase oleh Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Kapal tongkang milik PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra menjadi penabrak fender atau dolphin Jembatan Mahakam pada Minggu, 16 Februari 2025 lalu.

Insiden di jalur sungai tersibuk Kalimantan Timur itu bukan sekadar kecelakaan lalu lintas air, melainkan persoalan lebih besar soal tanggung jawab, transparansi, dan keselamatan infrastruktur publik.

Perusahaan itu secara terbuka mengakui tabrakan tersebut.

Dua fender pelindung pilar jembatan roboh dan tenggelam ke dasar Sungai Mahakam.

Namun hingga awal 2026, hanya satu fender yang diganti dan satu fender lainnya dibiarkan hilang, meski fungsi fender sangat vital sebagai benteng pertama struktur jembatan dari benturan kapal bertonase besar.

Profil PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra

PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra merupakan perusahaan jasa pelayaran dan logistik yang berdiri sejak 2008 sebagai bagian dari Mitraventures Group, dengan kantor pusat di Batam dan kantor cabang di Pekanbaru.

Armada yang mereka operasikan mencapai 36 tugboat dan 38 tongkang, melayani pengangkutan batu bara, kayu, pasir, batu, hingga alat berat ke berbagai wilayah Indonesia.

Dalam profil resminya, perusahaan ini menyebut telah bekerja sama dengan sejumlah korporasi besar seperti Sinarmas Group, PT Mitra Hijau Lestari, dan Riau Andalan Pulp and Paper.

Visi mereka menjadi perusahaan logistik multimodale terintegrasi di Asia Tenggara.

Namun, rekam jejak di Sungai Mahakam justru menyisakan ironi.

Dampak Tabrakan Fender Jembatan Mahakam

Kapal yang menabrak Jembatan Mahakam saat itu diketahui mengangkut muatan kayu dalam jumlah besar membawa keluar dari Kaltim.

Dampaknya bukan hanya kerusakan fisik fender, tapi juga meningkatnya risiko keselamatan jembatan, pengguna jalan dan pelayaran.

Sejak dua fender hilang, perlindungan struktur jembatan tidak lagi utuh.

 

Kontrak Perbaikan Fender Rp27,2 Miliar

Direktur PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra, Bagio, menyatakan perusahaan siap bertanggung jawab.

Mereka menandatangani kontrak proyek Perbaikan Dolphin dan Fender Jembatan Mahakam senilai Rp27.295.983.000 itu belum termasuk PPN.

Konsultan pengawas adalah PT Awefendi Geostruk Indonesia, sedangkan penyedia jasa konstruksi PT Naviri Multi Konstruksi.

Kontrak diteken pada 6 Oktober 2025, dengan masa kerja 180 hari kalender dan masa pemeliharaan 180 hari.

Jeda Delapan Bulan Persetujuan DED

Namun, ada jeda hampir delapan bulan sejak insiden hingga desain teknis atau Detail Engineering Design (DED) disetujui pada September 2025.

Bagio berdalih keterlambatan itu bukan karena pembiaran.

“Pada dasarnya dari habis terjadinya kejadian penabrakan di Jembatan Mahakam, kita langsung menghadap ke kantor BBPJN dan menyatakan siap bertanggung jawab,” ujarnya dalam RDP dengan DPRD Kaltim, Rabu (7/1/2025).

Menurut dia, hambatan muncul karena tidak adanya desain fender yang siap pakai.

Perusahaan harus mencari konsultan dari luar Kaltim, yang baru didapat sekitar April 2025, lalu menjalani diskusi teknis berbulan-bulan hingga DED disepakati.

Akui Tabrak Dua Fender, Tapi Hanya Ganti Satu

Masalahnya, meski mengakui dua fender tertabrak, rencana pekerjaan hanya mencakup satu fender.

Tidak ada penjelasan terbuka ke publik soal dasar teknis atau regulasi yang membolehkan penggantian sebagian.

Padahal, fungsi pengaman jembatan bekerja sebagai satu sistem, bukan potongan terpisah.

Spesifikasi Teknis Fender Jembatan Mahakam

Dari sisi teknis, proyek ini tergolong berat.

Fender dirancang dengan 12 titik pancang, menggunakan pipa baja diameter 1.100 mm, tebal 22 mm, dengan panjang mencapai 60 meter dari dasar sungai.

Pabrikasi material dilakukan di samping Hotel Harris Samarinda untuk mendekatkan lokasi pemancangan.

Metode kerja dilakukan di atas air, dari tengah sungai ke arah darat, dengan pengawasan ketat surveyor.

Proyek Dimulai Awal Januari 2026

Hingga 4 Januari 2026, progres fisik dilaporkan mencapai 46 persen, melampaui rencana awal 30 persen, dengan sisa waktu 106 hari.

Bagio memastikan pekerjaan tidak mengganggu lalu lintas kapal.

“Intinya dalam pengerjaan ini, kami tidak mengganggu pelayaran atau pengolongan kapal-kapal yang lewat,” katanya.

Data kontrak menunjukkan porsi anggaran terbesar, 35,65 persen, dialokasikan untuk tiang pancang baja, disusul pekerjaan tiang bor beton 23,386 persen.

Sebagai informasi, pekerjaan pemancangan itu baru akan dilakukan pada tanggal 9 atau 10 Januari 2026.

(wan)

 

Tag

MORE