Suara sonar kapal mengganggu navigasi dan komunikasi mereka.
“Kami melihat, setiap ponton lewat itu 5 menit dia terganggu sonar. Kalau terganggu berlebihan, mereka sulit komunikasi dan berpotensi tertabrak,” kata Danielle.
Selain itu, migrasi pesut terganggu oleh lalu lintas di Sungai Mahakam.
Pesut mengikuti migrasi ikan seperti kendia dan kepang, tetapi kepadatan kapal dan polusi mengganggu perilaku alami mereka.
Danielle menyebutkan pentingnya pengaturan lalu lintas, termasuk kolaborasi dengan perusahaan batu bara agar jalur hauling tidak membahayakan habitat pesut.
Kondisi Ekosistem dan Perlindungan Pesut
Kualitas air di Sungai Mahakam relatif masih baik, meski sedimentasi dan limbah industri tetap menjadi masalah.
Danielle menekankan pentingnya menjaga jarak kebun sawit dari pinggir sungai, mencegah kanal terbuka, dan mengawasi limbah agar tidak mencemari habitat pesut.
Populasi pesut Mahakam yang menyusut dari 80 ekor pada 2014 menjadi 60 ekor pada 2025 menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat.
Danielle berharap, melalui pengawasan, edukasi, dan kerjasama masyarakat, populasi pesut bisa stabil dan bahkan meningkat di masa depan.
“Kita mendukung ekonomi rakyat tapi yang tetap menjaga kelestarian ekosistemnya begitu,” tutupnya.
(wan)
Tag




