ARUSBAWAH.CO - Populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) di Sungai Mahakam terus mengalami penyusutan signifikan.
Berdasarkan catatan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), jumlah pesut menurun dari 80 ekor pada 2014 menjadi 60 ekor pada 2025.
Penurunan sekitar 25 persen ini menjadi alarm bagi konservasi spesies langka di Kalimantan Timur.
Tren Penurunan Populasi Pesut Mahakam
Danielle Krab dari RASI menyebutkan, tren penurunan populasi ini terlihat jelas sejak survei terakhir.
“Tren populasi itu sekarang menurun ya. Jadi kita melihat di tahun 2024 tinggal 60 ekor ya. Jadi di tahun ini kita belum tahu karena perlu tiga survei dengan interval 4 bulan biasanya untuk menghitung populasi. Jadi, ada metodenya berdasarkan sirip ID karena siripnya dia sebagai ID individu dia. Nah, itu kalau sudah di akhir tahun baru kami biasanya akan melihat berapa sih jumlah di tahun 2025 ini,” ujarnya saat diwawancara usai Rakor di hotel Fugo Samarinda, Rabu (1/10/2025).
Metode identifikasi menggunakan sirip punggung memungkinkan tim konservasi melacak individu pesut sejak 2005.
Sirip punggung berbeda-beda setiap pesut sehingga dapat dijadikan “sidik jari”.
Danielle menambahkan, beberapa pesut memiliki ciri fisik unik, seperti Fiona, yang memiliki skoliosis sehingga mudah dikenali.
Faktor Penyebab Kematian Pesut
Meskipun jumlah pesut berkurang, kematian masih menjadi tantangan utama.
Danielle menyebutkan empat faktor utama kematian pesut, yaitu terjerat jaring insang, tabrakan dengan kapal, keracunan, dan stres akibat gangguan habitat.
“Memang kebanyakan mati akibat jaring insang ya. Di tabrak kapal sama kami menemukan racun. Jadi racun itu racun ikan, ya itu lebih sulit untuk mengatasi,” jelasnya.
Selain itu, mikroplastik ditemukan di tubuh pesut selama necropsi laboratorium, yang menghambat pencernaan dan menimbulkan masalah kesehatan.
“Bangkai kalau ketemu langsung kita bawa ke lap, uji lab, necropsi dan kelihatan permasalahannya apa aja sih pesut sampai kami menemukan mikroplastik di dalam tubuh itu,” tambahnya.
Menurutnya, upaya mitigasi dilakukan melalui empat pointer rencana aksi yakni, mengurangi kematian akibat jaring dan tabrakan, memperbaiki habitat dari polusi, mengurangi kebisingan di bawah air, serta mengedukasi masyarakat untuk beralih ke aktivitas ekonomi ramah lingkungan.
RASI menekankan perlunya pengawasan terhadap praktik ilegal seperti penyetruman dan racun, meskipun pihaknya bukan penegak hukum.
Reproduksi Pesut yang Lambat
Reproduksi pesut yang lambat menjadi faktor tambahan penyusutan populasi.
Satu betina baru dapat berkembang biak pada usia 8-9 tahun, dengan jarak kelahiran rata-rata 3,5 tahun.
“Kalau anaknya hidup, baru setelah 3,5-4 tahun lambat itu mereka baru punya anak berikutnya karena dia lama ikutin, dia disusuin dan biasanya ada satu kelompok betina yang semua ikut mengawasi. Bahkan pimpinan nya juga betina memang yang paling nenek biasanya itu yang menunjuk jalan,” jelas Danielle.
Upaya penangkaran atau breeding di kolam buatan dianggap tidak efektif.
Pesut adalah hewan sosial dengan kecerdasan tinggi dan membutuhkan habitat alami serta interaksi kelompok.
“Kalau di Mahakam kan dia punya kehidupan, dia mau ke mana, dia bisa makan ikan apa saja. Kalau di kolam cuma diberi ikan mati, itu sebetulnya penyiksaan,” tegasnya.
Gangguan Habitat dan Lalu Lintas Sungai
Lalu lintas kapal yang padat juga menjadi sumber stres bagi pesut.
Suara sonar kapal mengganggu navigasi dan komunikasi mereka.
“Kami melihat, setiap ponton lewat itu 5 menit dia terganggu sonar. Kalau terganggu berlebihan, mereka sulit komunikasi dan berpotensi tertabrak,” kata Danielle.
Selain itu, migrasi pesut terganggu oleh lalu lintas di Sungai Mahakam.
Pesut mengikuti migrasi ikan seperti kendia dan kepang, tetapi kepadatan kapal dan polusi mengganggu perilaku alami mereka.
Danielle menyebutkan pentingnya pengaturan lalu lintas, termasuk kolaborasi dengan perusahaan batu bara agar jalur hauling tidak membahayakan habitat pesut.
Kondisi Ekosistem dan Perlindungan Pesut
Kualitas air di Sungai Mahakam relatif masih baik, meski sedimentasi dan limbah industri tetap menjadi masalah.
Danielle menekankan pentingnya menjaga jarak kebun sawit dari pinggir sungai, mencegah kanal terbuka, dan mengawasi limbah agar tidak mencemari habitat pesut.
Populasi pesut Mahakam yang menyusut dari 80 ekor pada 2014 menjadi 60 ekor pada 2025 menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat.
Danielle berharap, melalui pengawasan, edukasi, dan kerjasama masyarakat, populasi pesut bisa stabil dan bahkan meningkat di masa depan.
“Kita mendukung ekonomi rakyat tapi yang tetap menjaga kelestarian ekosistemnya begitu,” tutupnya.
(wan)




