Arus Publik

LPTQ Kaltim

Perjalanan Risky Raihan, Qari Muda Dipercaya Jadi Muazin di Masjid Negara IKN

Selasa, 10 Maret 2026 12:31

PROFIL - Muhammad Risky Raihan, qari muda yang dipercaya jadi muazin di Masjid Negara IKN/Arusbawah.co

Sebagai peserta MTQ, Risky juga mengikuti berbagai program pembinaan dari LPTQ Kalimantan Timur.

Dalam program tersebut, para peserta tidak hanya dilatih dalam hal bacaan dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mental ketika tampil di panggung lomba.

Menurut Risky, persiapan lomba tidak bisa dilakukan secara instan.

“Kita nggak bisa latihan seminggu sebelum lomba. Itu nggak bisa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa latihan biasanya berlangsung selama berbulan-bulan.

“Kalau kata guru saya, latihan paling cepat dua bulan, paling lama sampai sembilan bulan,” katanya.

Latihan panjang tersebut diperlukan karena lomba tilawah tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga kesiapan mental.

“Kalau sudah masuk panggung, pikiran kita itu nggak lagi 100 persen normal. Itu mental yang dilatih,” jelasnya.

Menjadi Muazin di Masjid Negara IKN

Pengalaman panjang di dunia tilawah akhirnya membuka jalan baru bagi Risky. Ia kemudian dipanggil oleh LPTQ Kalimantan Timur untuk ikut bertugas di Ibu Kota Nusantara.

Di sana, ia dipercaya menjadi muazin di Masjid Negara IKN selama bulan Ramadan.

“Dari LPTQ Kaltim memanggil saya untuk bertugas di IKN, tepatnya di Masjid IKN. Saya disuruh bertugas sebagai muazin,” katanya.

Bagi Risky, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga. Ia bisa ikut berkontribusi dalam kegiatan keagamaan di ibu kota baru Indonesia.

“Ini juga salah satu bentuk pemberdayaan dari LPTQ, supaya apa yang kami pelajari selama ini bisa ditampilkan,” katanya.

Menjaga Suara dan Bacaan

Sebagai seorang qari sekaligus muazin, Risky menilai kualitas suara menjadi salah satu unsur penting dalam melantunkan azan maupun tilawah Al-Qur’an.
Namun menurutnya, suara saja tidak cukup. Bacaan yang benar sesuai tajwid dan makhraj juga menjadi hal utama.

“Kalau untuk menjadi muazin itu pentingnya kita mempunyai suara. Terus yang kedua kita harus mempunyai tajwid yang benar,” ujarnya.

Kini, di usia 21 tahun, Risky terus melanjutkan perjalanannya bersama Al-Qur’an. Berbagai lomba yang pernah ia ikuti bukan sekadar tentang meraih kemenangan.

Bagi dirinya, setiap kompetisi menjadi cara untuk memperbaiki bacaan, memperkuat hafalan, dan terus menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Ia juga memegang teguh pesan yang selalu diingat dari orang tuanya tentang kesungguhan dalam menjalani jalan yang dipilih.

“Kalau capek, kata orang tua saya, capek itu jadi berkah,” tutupnya. (sobizz/raf)

 

Tag

MORE