Ia berhasil meraih juara dua cabang tilawah satu juz pada MTQ tingkat provinsi yang digelar di Tanah Grogot, Kabupaten Paser.
Prestasinya semakin moncer ketika ia meraih juara satu cabang tilawah lima juz pada MTQ tingkat provinsi yang digelar di Samarinda.
Tak berhenti di situ, Risky kembali menorehkan prestasi dengan meraih juara satu cabang tilawah sepuluh juz pada MTQ tingkat provinsi yang berlangsung di Kutai Timur.
Didikan Orang Tua yang Tegas
Di balik perjalanan panjang tersebut, Risky mengakui peran besar orang tuanya dalam membentuk kedisiplinannya sejak kecil.
Ia dibesarkan di keluarga yang menjadikan mengaji sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan orang tuanya pernah mematahkan telepon genggam miliknya ketika ia ketahuan tidak mengaji. Saat itu, Risky sempat beralasan sakit agar tidak mengikuti kegiatan mengaji sore hari. Namun ternyata ia justru pergi bermain di luar rumah.
“Baru pas saya pulang ke rumah, HP saya dipatahkan,” ceritanya.
Sejak saat itu, Risky tidak lagi menggunakan ponsel selama bertahun-tahun. Ia baru kembali memegang ponsel sekitar lima tahun terakhir.
“Dari kelas tiga SD sampai kelas satu SMA itu saya nggak pakai HP,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan orang tuanya tersebut justru memberikan dampak besar dalam membentuk fokus serta rasa cintanya terhadap Al-Qur’an.
Orang tuanya bahkan memiliki prinsip tegas untuk menjaga kebiasaan mengaji di rumah.
“Papa saya lebih baik kehilangan uang puluhan juta daripada kehilangan suara ngaji anaknya di rumah dalam satu hari,” tuturnya.
Fokus Belajar Al-Qur’an di Pesantren
Perjalanan pendidikan Risky juga berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Ia hanya menempuh pendidikan formal hingga sekolah dasar.
Setelah itu, ia sempat melanjutkan sekolah hingga kelas satu SMP sebelum akhirnya memilih fokus mempelajari Al-Qur’an di pesantren.
Keputusan tersebut diambil setelah mengikuti arahan gurunya, Ustaz Muzakir Abdurrahman.
Menurut Risky, gurunya menegaskan bahwa mempelajari Al-Qur’an membutuhkan fokus penuh.
“Guru saya bilang Al-Qur’an itu nggak bisa diduakan. Kalau kamu lancar, jangan sekolah. Fokus ke Al-Qur’an saja. Insya Allah, Allah mengatur jalannya,” katanya menirukan pesan gurunya.
Perjalanan menuntut ilmu membuat Risky berpindah-pindah pesantren. Setelah lulus sekolah dasar, ia sempat belajar di Malang, Jawa Timur.
Namun karena jarak yang jauh dari keluarga, ia kemudian kembali ke Kalimantan Timur dan melanjutkan pendidikan di beberapa pondok pesantren di Samarinda.
Ia bahkan mengaku sempat berpindah pondok hingga tiga atau empat kali sebelum akhirnya menemukan tempat belajar yang tepat.




