Arus Publik

LPTQ Kaltim

Perjalanan Risky Raihan, Qari Muda Dipercaya Jadi Muazin di Masjid Negara IKN

Selasa, 10 Maret 2026 12:31

PROFIL - Muhammad Risky Raihan, qari muda yang dipercaya jadi muazin di Masjid Negara IKN/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO - Sejak kecil, Muhammad Risky Raihan telah tumbuh bersama Al-Qur’an.

Didikan orang tua yang tegas, kehidupan di pesantren, serta pengalaman mengikuti berbagai lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) membentuk perjalanan pemuda asal Kalimantan Timur ini hingga dikenal sebagai salah satu qari muda berprestasi.

Perjalanan panjangnya di dunia tilawah akhirnya mengantarkannya dipercaya menjadi muazin di Masjid Negara IKN pada Ramadan 2026.

Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Risky untuk mengabdikan kemampuan yang telah ia tekuni sejak kecil.

Bagi Risky, perjalanan itu dimulai dari hal kecil, yakni terbiasa mengaji di rumah sejak kecil.

Lingkungan keluarga yang menempatkan Al-Qur’an sebagai prioritas utama membuatnya terbiasa mendengar dan melantunkan ayat-ayat suci setiap hari.

Lomba Azan Jadi Pembuka Jalan

Perjalanan Risky di dunia tilawah bermula ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Lomba pertama yang ia ikuti bukanlah MTQ, melainkan lomba azan.

Ia mengingat dengan jelas pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi tersebut ketika masih sangat kecil.

“Untuk lomba-lomba sebelum saya ikut MTQ ini, lomba azan. Itu paling pertama kali saya ikut itu lomba azan,” tuturnya saat ditemui redaksi Arusbawah.co di Masjid Negara, IKN, Sabtu (7/3/2026).

Saat itu usianya masih sekitar kelas tiga sekolah dasar.

“Yang pertama kali saya ikut itu 2013. Kelas 3 SD,” katanya.

Dari pengalaman tersebut, Risky mulai terbiasa tampil di depan banyak orang.

Perlahan, ia kemudian mulai mengikuti lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

Cabang pertama yang ia ikuti adalah tilawah satu juz di tingkat kecamatan di Samarinda.

Meski aktif mengikuti lomba, Risky mengaku kerap merasa pesimis setiap kali bertanding.

Ia bahkan sering berpikir bahwa dirinya tidak akan meraih juara.

“Saya naik ke tingkat kota. Saya bilang, ini mungkin sampai sini aja. Nggak bakal juara,” kenangnya.

Namun hasil yang didapat justru sering kali di luar perkiraannya.

Ia berhasil meraih juara pertama di tingkat kota dan melanjutkan ke tingkat provinsi.

“Di provinsi saya bilang, kayaknya ini nggak bakal juara. Eh akhirnya masuk final, juara dua,” ujarnya.

Mengumpulkan Prestasi di MTQ

Seiring berjalannya waktu, kemampuan tilawah Risky terus berkembang. Ia mulai mengikuti berbagai cabang lomba dengan tingkat hafalan yang lebih tinggi.

Di tingkat provinsi Kalimantan Timur, Risky pernah meraih sejumlah prestasi di berbagai cabang tilawah.

Ia berhasil meraih juara dua cabang tilawah satu juz pada MTQ tingkat provinsi yang digelar di Tanah Grogot, Kabupaten Paser.

Prestasinya semakin moncer ketika ia meraih juara satu cabang tilawah lima juz pada MTQ tingkat provinsi yang digelar di Samarinda.

Tak berhenti di situ, Risky kembali menorehkan prestasi dengan meraih juara satu cabang tilawah sepuluh juz pada MTQ tingkat provinsi yang berlangsung di Kutai Timur.

 

Didikan Orang Tua yang Tegas

Di balik perjalanan panjang tersebut, Risky mengakui peran besar orang tuanya dalam membentuk kedisiplinannya sejak kecil.

Ia dibesarkan di keluarga yang menjadikan mengaji sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan orang tuanya pernah mematahkan telepon genggam miliknya ketika ia ketahuan tidak mengaji. Saat itu, Risky sempat beralasan sakit agar tidak mengikuti kegiatan mengaji sore hari. Namun ternyata ia justru pergi bermain di luar rumah.

“Baru pas saya pulang ke rumah, HP saya dipatahkan,” ceritanya.

Sejak saat itu, Risky tidak lagi menggunakan ponsel selama bertahun-tahun. Ia baru kembali memegang ponsel sekitar lima tahun terakhir.

“Dari kelas tiga SD sampai kelas satu SMA itu saya nggak pakai HP,” ujarnya.

Menurutnya, keputusan orang tuanya tersebut justru memberikan dampak besar dalam membentuk fokus serta rasa cintanya terhadap Al-Qur’an.

Orang tuanya bahkan memiliki prinsip tegas untuk menjaga kebiasaan mengaji di rumah.

“Papa saya lebih baik kehilangan uang puluhan juta daripada kehilangan suara ngaji anaknya di rumah dalam satu hari,” tuturnya.

Fokus Belajar Al-Qur’an di Pesantren

Perjalanan pendidikan Risky juga berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Ia hanya menempuh pendidikan formal hingga sekolah dasar.

Setelah itu, ia sempat melanjutkan sekolah hingga kelas satu SMP sebelum akhirnya memilih fokus mempelajari Al-Qur’an di pesantren.

Keputusan tersebut diambil setelah mengikuti arahan gurunya, Ustaz Muzakir Abdurrahman.

Menurut Risky, gurunya menegaskan bahwa mempelajari Al-Qur’an membutuhkan fokus penuh.

“Guru saya bilang Al-Qur’an itu nggak bisa diduakan. Kalau kamu lancar, jangan sekolah. Fokus ke Al-Qur’an saja. Insya Allah, Allah mengatur jalannya,” katanya menirukan pesan gurunya.

Perjalanan menuntut ilmu membuat Risky berpindah-pindah pesantren. Setelah lulus sekolah dasar, ia sempat belajar di Malang, Jawa Timur.

Namun karena jarak yang jauh dari keluarga, ia kemudian kembali ke Kalimantan Timur dan melanjutkan pendidikan di beberapa pondok pesantren di Samarinda.

Ia bahkan mengaku sempat berpindah pondok hingga tiga atau empat kali sebelum akhirnya menemukan tempat belajar yang tepat.

Proses Latihan yang Panjang

Sebagai peserta MTQ, Risky juga mengikuti berbagai program pembinaan dari LPTQ Kalimantan Timur.

Dalam program tersebut, para peserta tidak hanya dilatih dalam hal bacaan dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mental ketika tampil di panggung lomba.

Menurut Risky, persiapan lomba tidak bisa dilakukan secara instan.

“Kita nggak bisa latihan seminggu sebelum lomba. Itu nggak bisa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa latihan biasanya berlangsung selama berbulan-bulan.

“Kalau kata guru saya, latihan paling cepat dua bulan, paling lama sampai sembilan bulan,” katanya.

Latihan panjang tersebut diperlukan karena lomba tilawah tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga kesiapan mental.

“Kalau sudah masuk panggung, pikiran kita itu nggak lagi 100 persen normal. Itu mental yang dilatih,” jelasnya.

Menjadi Muazin di Masjid Negara IKN

Pengalaman panjang di dunia tilawah akhirnya membuka jalan baru bagi Risky. Ia kemudian dipanggil oleh LPTQ Kalimantan Timur untuk ikut bertugas di Ibu Kota Nusantara.

Di sana, ia dipercaya menjadi muazin di Masjid Negara IKN selama bulan Ramadan.

“Dari LPTQ Kaltim memanggil saya untuk bertugas di IKN, tepatnya di Masjid IKN. Saya disuruh bertugas sebagai muazin,” katanya.

Bagi Risky, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga. Ia bisa ikut berkontribusi dalam kegiatan keagamaan di ibu kota baru Indonesia.

“Ini juga salah satu bentuk pemberdayaan dari LPTQ, supaya apa yang kami pelajari selama ini bisa ditampilkan,” katanya.

Menjaga Suara dan Bacaan

Sebagai seorang qari sekaligus muazin, Risky menilai kualitas suara menjadi salah satu unsur penting dalam melantunkan azan maupun tilawah Al-Qur’an.
Namun menurutnya, suara saja tidak cukup. Bacaan yang benar sesuai tajwid dan makhraj juga menjadi hal utama.

“Kalau untuk menjadi muazin itu pentingnya kita mempunyai suara. Terus yang kedua kita harus mempunyai tajwid yang benar,” ujarnya.

Kini, di usia 21 tahun, Risky terus melanjutkan perjalanannya bersama Al-Qur’an. Berbagai lomba yang pernah ia ikuti bukan sekadar tentang meraih kemenangan.

Bagi dirinya, setiap kompetisi menjadi cara untuk memperbaiki bacaan, memperkuat hafalan, dan terus menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Ia juga memegang teguh pesan yang selalu diingat dari orang tuanya tentang kesungguhan dalam menjalani jalan yang dipilih.

“Kalau capek, kata orang tua saya, capek itu jadi berkah,” tutupnya. (sobizz/raf)

 

Tag

MORE