Sastra

OBROLAN UJUNG GANG

Minggu, 2 Juni 2024 1:37

“Owalah, bapak itu nyalon jadi gubernur kah sekarang?” Suara May terdengar. Tapi May tampak tidak peduli, dia melanjutkan memilih sayur di depannya.

�Mbak Nar, aku bawa ikan layang ini, sama kangkung ini seikat. Tapi, kubawa dulu ya, mbak Nar. Aku belum ada duit. Dihitung aja sama yang kemarin-kemarin. May menggendong seikat kangkung dan menunjuk ikan layang yang sudah dibawanya.

Narsih diam sejenak. Dia mengambil buku catatan kecil dari tas yang di gantungnya di motor. Mencatat apa-apa yang di bawa oleh May barusan.

�Sama hutangmu kemarin, berarti semuanya dua ratus sepuluh ribu, ya, May. Narsih memperlihatkan catatannya pada May. May mengangguk saja tanpa benar-benar melihatnya.

Oke, oke. Mudahan besok suamiku dapat duit ya mbak Nar, kemarin suamiku bantuin bos temennya, cari orang yang nyewakan truk tambang. Mudahan cepat keluar komisinya. May tersenyum.

�Iya, mudahan cepet cair. Narsih mendoakan.

May kemudian beranjak dari tempat dia berdiri menuju rumahnya yang tak jauh dari situ. Dia terdengar kembali bersenandung, menyanyikan lagu Tik-Tok viral lainnya.

Ketika May sudah menjauh, Dewi mendekati Narsih. Setengah berbisik.

Budhe, ada sayur atau ikan kemarin kah? Saya beli, tapi jangan mahal. Uang saya gak banyak. Dewi memperlihatkan uang sepuluh ribu di tangannya.

Narsih menatap iba pada perempuan itu. Dia bergerak mengambil ikan dari dalam sterofoam kecil berisi es batu di bawah, dan juga mengambil tahu, tempe, dan seikat bayam yang belum terlalu layu. Kemudian memasukkan semuanya kedalam satu plastik.

Melihat banyak sekali lauk yang diterimanya, Dewi panik, dia takut tidak bisa membayar belajaan tersebut.

Budhe, ini kok banyak betul? Uang saya cuma sepuluh ribu. Dewi memprotes pelan.

�Sudah bawa aja. Lagian bayam ini juga mau dibuang. Ini tahu, tempe sama ikan kemarin. Bawa aja, gak usah bayar. Uangnya buat anakmu aja. Narsih menyodorkan kantong plastik tersebut kepada Dewi. Akan tetapi Dewi menolaknya.

�Ah, jangan budhe. Saya bayar. Dewi meletakan uang sepuluh ribu tersebut.

�Sudah, gak usah. Bawa aja. Narsih mengambil yang tersebut dan menaruh uang tersebut kembali ke tangan Dewi.

�Terimakasih ya, budhe, semoga jualan budhe laris manis. Dewi menatap Narsih dengan tatapan penuh terima kasih, sambil mengambil kantong plastik berisi lauk tersebut.

�Ini uangnya, saya taruh disini. Dewi meletakan uang nya kembali diatas keranjang jualan Narsih, kemudian kabur dengan setengah berlari.

Narsih tidak sempat mencegahnya. Dia hanya tersenyum melihat dewi menjauh, kemudian menyimpan uang tersebut kedalam tas yang melingkar di pinggangnya.

Narsih memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada lagi yang membeli jualannya. Dia mengemasi lagi sayur-sayur yang dikeluarkannya tadi. Memasukannya dengan aman kedalam keranjang agar tidak berjatuhan saat dia berkendara nanti.

Setelah selesai semua, Narsih menaiki motor bututnya. Kemudian kembali berteriak. �Sayuuurrrrrr�!

 

Ditulis oleh Riri Aditya

Bisa ditemukan di IG @nonerie

Arusbawah.co menerima naskah bentuk cerpen, tulisan, opini, dan tulisan feature lainnya untuk diterbitkan, setelah melalui proses pemilihan dan penyuntingan di tim redaksi. Informasi lebih lanjut untuk pengiriman naskah bisa melalui Instagram Arus Bawah @arusbawah.co

Tag

MORE