Sastra

OBROLAN UJUNG GANG

Minggu, 2 Juni 2024 1:37

“Owalah, bapak itu nyalon jadi gubernur kah sekarang?” Suara May terdengar. Tapi May tampak tidak peduli, dia melanjutkan memilih sayur di depannya.

ARUSBAWAH.CO - �Sayuuuurrrrr! Suara teriakan Narsih terdengar di seantero gang. Suaranya terdengar serak, mungkin karena usianya yang sudah melewati lima puluhan.

Sudah menjadi kebiasaan, setiap jam sepuluh pagi dia akan berhenti di ujung gang di depan tanah kosong ini. Narsih membuka dagangan sayur yang dibawa dengan motor butut miliknya.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan, menghampiri Narsih dengan santai. Perempuan berbadan besar tersebut, memakai daster merah yang sudah bolong bagian dekat lututnya. Rambutnya yang ikal terlihat diikat dengan sembarangan.

Perempuan tersebut langsung memilih sayur-mayur yang bahkan belum dikeluarkan semua oleh Narsih. Sambil bersenandung, menyanyikan lagu yang sedang tren di Tik-Tok saat ini.

�Mbak Nar gak bawa jengkol kah? Perempuan tersebut menaikkan lehernya, mencari ke seluruh keranjang sayur yang di bawa Narsih.

�Gak bawa aku May, lagi gak musim. Narsih menanggapi sambil mengeluarkan sayuran yang lain. Perempuan yang dipanggil May itu berdecak kecewa. Tangannya tetap membongkar keranjang sayur di depannya, berharap medapatkan inspirasi untuk menggantikan menu jengkol yang ingin dimasaknya hari ini.

Disaat bersamaan, dua orang perempuan lagi mendatangi bakul Narsih. Pakaian mereka tidak jauh berbeda dari yang dipakai May. Yang berbeda hanyalah jaket yang dipakai oleh Dewi, seorang janda yang masih terbilang muda.

Usianya bahkan belum genap tiga puluh. Anaknya tiga orang, semuanya masih kecil-kecil. Suaminya meninggal karena kecelakaan ketika sedang mengambil orderan ojek online.

Yang satu lagi Kasnah. Ibu rumah tangga biasa, usianya sekitar pertengahan empat puluhan. Meski begitu wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya.

Kasnah adalah ketua Dasa Wisma di lingkungan RT tersebut. Walaupun mereka sama-sama mengenakan daster, daster Kasnah terlihat rapi dan mahal, ditambah dengan gelang dan kalung emasnya yang tebal, bersinar diterpa cahaya matahari pagi.

�Mbak Nar, ada bawa pesanan dagingku kemarin kah? tanya Kasnah yang berlogat Banjar khas Samarinda.

�Ada ini, tapi harga daging naik. Sudah seratus lima puluh per kilo sekarang. Narsih mengeluarkan bungkusan plastik berwarna putih dari kotak sterofoam kecil berisi es batu di keranjang bagian bawah.

Kada papa, yang penting ada. Kasnah mengambil bungkusan plastik tersebut. Membuka dan mengecek pesanannya. Setelah merasa puas, Kasnah mencari bahan masakan lain yang diperlukannya di dalam keranjang. Seperti yang sedang dilakukan May dan Dewi saat ini.

�Eh, ibu-ibu, Handak menyayur apa neh? Seorang perempuan yang mungkin seumuran dengan Narsih menghampiri mereka.

Perempuan tersebut mengenakan pakaian dan jilbab berwarna ungu, sambil menenteng tas berwarna senada. Logat bicaranya tak jauh berbeda dari Kasnah.

�Bu RT handak kemana? Bungas banar. Kasnah tersenyum menyadari kehadiran perempuan tersebut.

Handak ke perkumpulan reuni sekolah nah. Acaranya pagi. Tapi aku harus mengurusi ini dulu, mamasang baliho calon gubernur. Bu RT menunjuk kearah belakang.

Di belakangnya, beberapa lelaki membawa palang kayu dan gulungan baliho. Mereka mulai membuat bingkai baliho, dan mendirikannya diatas tanah kosong gang tersebut.

�Ya, disitu aja, hadap-akan kesana. Sudah, kaya itu aja. Bu RT mengarahkan pemasang baliho tersebut.

Semua mata perempuan di bakul Narsih menoleh kearah baliho yang sedang dipasang. Mencari tahu, wajah siapa yang terpasang disana.

�Owalah, bapak itu nyalon jadi gubernur kah sekarang? Suara May terdengar. Tapi May tampak tidak peduli, dia melanjutkan memilih sayur di depannya.

�Iya, kebetulan aku yang mengurusi kampanye nya di kelurahan sini. Soalnya kawan jua beliau ini. Kena pas pencoblosan, pilih beliau, lah, Bu RT tersenyum bangga.

�Wah, ulun ketuju haja bapak itu naik jadi gubernur bu. Sidin bagus mengurusi kota, pas jadi walikota. Mana bantuan buat dasa wisma turun terus bu RT ai, biar kada banyak, tapi ada terus. Kasnah menganggukan kepalanya.

�Kalau saya sih, yang penting ngasih duit bu. Gak ngasih duit ya ngapain dipilih. Rugi dong! Iya kan Wik? May terkekeh dengan ucapannya sendiri. Sambil menyikut Dewi disebelahnya, dia mengutip kalimat yang pernah viral di Tik-Tok. Dewi, yang disikut hanya tersenyum kecil.

�E��eh, jangan salah, kena ada aja kok. Kada banyak, tapi lumayan gasan nukar baraslawan minyak goreng. Bu RT mengernyitkan keningnya, raut wajahnya tampak meyakinkan.

Bujuran kah? lumayan kalau kaya itu bu RT ai. Sahut Kasnah.

�Yasudah lah, aku bejalan dulu. Bu RT bergegas kembali ke rumahnya yang tepat di hadapan tanah kosong tersebut ketika melihat baliho sudah setengah berdiri.

�Wah, padahal RT kada bulih terlibat kampanye atau politik. Bisa dipecat pak RT nya. Kasnah menatap mobil bu RT yang menjauh.

�Kan pak RT gak terlibat. Cuma bu RT aja yang terlibat. May menambahkan.

�Ya, sama ajalah. Kada mungkin bu RT kada melibatkan pak RT. Sahut Kasnah lagi.

�Tapi kan, yang penting bantuan lancar jaya kan bu? May menggoda Kasnah.

�Ah, kada jua. Bu RT pelit urangnya. Palingan bantuan yang dikasih, dimintanya pulang. Dibanding bapak itu yang naik, jagoanku itu bapak yang dari partai P. Sudah baik, alim, kalau ada kegiatan ibu-ibu, sidin pasti dukung. Buat pemberdayaan wanita ujarnya. Jadi kita, ibu-ibu ni, kada bediam aja dirumah. Ada jua gunanya untuk masyarakat. Kasnah memasang wajah bangga.

May tersenyum menatap Kasnah, matanya melirik ke arah Dewi yang masih memilih sayur. Kemudian melirik kearah Narsih yang masih menyusun jualannya.

�Kok saya gak pernah merasa diam aja dirumah ya bu? Saya sibuk, bu Kasnah. Ngurusin anak sekolah, ngurusin suami nganggur. Cari hutangan sana-sini. Saya gak pernah diam. May akhirnya bersuara pelan tanpa menatap ke arah Kasnah.

�Makanya, kalau milih bapak yang dari partai P, dijamin dapat kerjaan. Soalnya programnya dia itu, membuka lapangan kerjaan. Kalau nya beruntung, kita, ibu-ibu ni, bisa di buatkan UMKM. Bisa bejualan. Kasnah bersemangat.

�Halah, bu Kasnah. Itu kayak janji orang-orang yang nyalon dulu juga gitu. Ngomongnya buka lapangan kerja, sekalinya, yang dimasukan keluarganya semua. Suamiku nganggur ai terus. Bu Kasnah sih enak, suaminya pegawai. May terkekeh.

Kasnah terdiam sebentar. Dia menatap May dengan tatapan tidak enak.

�Pegawai gin, susah jua sekarang. Lakiku kan pegawai rendahan, cuma kerja di kecamatan, Bukan yang tinggi gajinya. Apalagi anakku yang terakhir, handak masuk kuliah. Karena bapaknya pegawai, dikasih uang kuliah paling tinggi. Apa itu, UKT kah namanya? Handak dua puluh lima juta per semester kami harus bayar. Kasnah meringis, tidak mau kalah menderita dari May. Tapi May hanya tersenyum.

�Alhamdulilah, bisa kuliah masih bu. Saya sekarang bingung mau bayar buku anak saya yang masih SD. Padahal cuma lima ratus ribu. Kalau gak mampu sekolah, ya nanti berhenti aja. Nanti saya ajarin dia jualan kue, lumayan ada penghasilan. May masih tersenyum. Seakan tidak ingin terbebani dengan uang sekolah yang tidak bisa dibayarnya tersebut.

Kasnah terdiam, dia semakin tidak enak. Dia buru-buru mengambil kentang, bawang, dan daun bawang, kemudian menyerahkannya pada Narsih. Narsih mengambil kantong plastik bekas berukuran besar dan memasukan semua belanjaan Kasnah. Termasuk dua kilo daging yang di pesan Kasnah.

�Semuanya tiga ratus lima puluh ribu, ya, bu Kasnah. Narsih menyerahkan kantong plastik tersebut kepada Kasnah.

Kasnah mengeluarkan dompetnya, mengambil uang ratusan ribu yang berjejal didalamnya. Ketika dia berusaha menarik uang tersebut, uang didalam dompetnya terhambur keluar. Beberapa uang seratus ribuan tercecer di atas tanah. Kasnah buru-buru memunguti uang tersebut. Kemudian menyerahkan uang pas senilai tiga ratus lima puluh ribu kepada Narsih.

�Pas ya, mbak Nar. Kasnah menutup dompetnya erat, takut isinya terhambur lagi.

�Yasudah, aku bebulik dulu lah, May, Wik? Makasih lah mbak Nar. Kasnah bergegas dari tempat dia berdiri menuju rumahnya.

May memperhatikan Kasnah, hingga Kasnah cukup jauh dari tempat mereka berdiri. May mencolek bahu Dewi. Alisnya terangkat.

�Palingan suaminya korupsi, mana ada pegawai rendahan, duitnya behamburan. bisik May pada Dewi. Dewi hanya menanggapi dengan senyum canggung.

�Mbak Nar, aku bawa ikan layang ini, sama kangkung ini seikat. Tapi, kubawa dulu ya, mbak Nar. Aku belum ada duit. Dihitung aja sama yang kemarin-kemarin. May menggendong seikat kangkung dan menunjuk ikan layang yang sudah dibawanya.

Narsih diam sejenak. Dia mengambil buku catatan kecil dari tas yang di gantungnya di motor. Mencatat apa-apa yang di bawa oleh May barusan.

�Sama hutangmu kemarin, berarti semuanya dua ratus sepuluh ribu, ya, May. Narsih memperlihatkan catatannya pada May. May mengangguk saja tanpa benar-benar melihatnya.

Oke, oke. Mudahan besok suamiku dapat duit ya mbak Nar, kemarin suamiku bantuin bos temennya, cari orang yang nyewakan truk tambang. Mudahan cepat keluar komisinya. May tersenyum.

�Iya, mudahan cepet cair. Narsih mendoakan.

May kemudian beranjak dari tempat dia berdiri menuju rumahnya yang tak jauh dari situ. Dia terdengar kembali bersenandung, menyanyikan lagu Tik-Tok viral lainnya.

Ketika May sudah menjauh, Dewi mendekati Narsih. Setengah berbisik.

Budhe, ada sayur atau ikan kemarin kah? Saya beli, tapi jangan mahal. Uang saya gak banyak. Dewi memperlihatkan uang sepuluh ribu di tangannya.

Narsih menatap iba pada perempuan itu. Dia bergerak mengambil ikan dari dalam sterofoam kecil berisi es batu di bawah, dan juga mengambil tahu, tempe, dan seikat bayam yang belum terlalu layu. Kemudian memasukkan semuanya kedalam satu plastik.

Melihat banyak sekali lauk yang diterimanya, Dewi panik, dia takut tidak bisa membayar belajaan tersebut.

Budhe, ini kok banyak betul? Uang saya cuma sepuluh ribu. Dewi memprotes pelan.

�Sudah bawa aja. Lagian bayam ini juga mau dibuang. Ini tahu, tempe sama ikan kemarin. Bawa aja, gak usah bayar. Uangnya buat anakmu aja. Narsih menyodorkan kantong plastik tersebut kepada Dewi. Akan tetapi Dewi menolaknya.

�Ah, jangan budhe. Saya bayar. Dewi meletakan uang sepuluh ribu tersebut.

�Sudah, gak usah. Bawa aja. Narsih mengambil yang tersebut dan menaruh uang tersebut kembali ke tangan Dewi.

�Terimakasih ya, budhe, semoga jualan budhe laris manis. Dewi menatap Narsih dengan tatapan penuh terima kasih, sambil mengambil kantong plastik berisi lauk tersebut.

�Ini uangnya, saya taruh disini. Dewi meletakan uang nya kembali diatas keranjang jualan Narsih, kemudian kabur dengan setengah berlari.

Narsih tidak sempat mencegahnya. Dia hanya tersenyum melihat dewi menjauh, kemudian menyimpan uang tersebut kedalam tas yang melingkar di pinggangnya.

Narsih memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada lagi yang membeli jualannya. Dia mengemasi lagi sayur-sayur yang dikeluarkannya tadi. Memasukannya dengan aman kedalam keranjang agar tidak berjatuhan saat dia berkendara nanti.

Setelah selesai semua, Narsih menaiki motor bututnya. Kemudian kembali berteriak. �Sayuuurrrrrr�!

 

Ditulis oleh Riri Aditya

Bisa ditemukan di IG @nonerie

Arusbawah.co menerima naskah bentuk cerpen, tulisan, opini, dan tulisan feature lainnya untuk diterbitkan, setelah melalui proses pemilihan dan penyuntingan di tim redaksi. Informasi lebih lanjut untuk pengiriman naskah bisa melalui Instagram Arus Bawah @arusbawah.co

Tag

MORE