Sastra

OBROLAN UJUNG GANG

Minggu, 2 Juni 2024 1:37

“Owalah, bapak itu nyalon jadi gubernur kah sekarang?” Suara May terdengar. Tapi May tampak tidak peduli, dia melanjutkan memilih sayur di depannya.

�Kalau saya sih, yang penting ngasih duit bu. Gak ngasih duit ya ngapain dipilih. Rugi dong! Iya kan Wik? May terkekeh dengan ucapannya sendiri. Sambil menyikut Dewi disebelahnya, dia mengutip kalimat yang pernah viral di Tik-Tok. Dewi, yang disikut hanya tersenyum kecil.

�E��eh, jangan salah, kena ada aja kok. Kada banyak, tapi lumayan gasan nukar baraslawan minyak goreng. Bu RT mengernyitkan keningnya, raut wajahnya tampak meyakinkan.

Bujuran kah? lumayan kalau kaya itu bu RT ai. Sahut Kasnah.

�Yasudah lah, aku bejalan dulu. Bu RT bergegas kembali ke rumahnya yang tepat di hadapan tanah kosong tersebut ketika melihat baliho sudah setengah berdiri.

�Wah, padahal RT kada bulih terlibat kampanye atau politik. Bisa dipecat pak RT nya. Kasnah menatap mobil bu RT yang menjauh.

�Kan pak RT gak terlibat. Cuma bu RT aja yang terlibat. May menambahkan.

�Ya, sama ajalah. Kada mungkin bu RT kada melibatkan pak RT. Sahut Kasnah lagi.

�Tapi kan, yang penting bantuan lancar jaya kan bu? May menggoda Kasnah.

�Ah, kada jua. Bu RT pelit urangnya. Palingan bantuan yang dikasih, dimintanya pulang. Dibanding bapak itu yang naik, jagoanku itu bapak yang dari partai P. Sudah baik, alim, kalau ada kegiatan ibu-ibu, sidin pasti dukung. Buat pemberdayaan wanita ujarnya. Jadi kita, ibu-ibu ni, kada bediam aja dirumah. Ada jua gunanya untuk masyarakat. Kasnah memasang wajah bangga.

May tersenyum menatap Kasnah, matanya melirik ke arah Dewi yang masih memilih sayur. Kemudian melirik kearah Narsih yang masih menyusun jualannya.

�Kok saya gak pernah merasa diam aja dirumah ya bu? Saya sibuk, bu Kasnah. Ngurusin anak sekolah, ngurusin suami nganggur. Cari hutangan sana-sini. Saya gak pernah diam. May akhirnya bersuara pelan tanpa menatap ke arah Kasnah.

�Makanya, kalau milih bapak yang dari partai P, dijamin dapat kerjaan. Soalnya programnya dia itu, membuka lapangan kerjaan. Kalau nya beruntung, kita, ibu-ibu ni, bisa di buatkan UMKM. Bisa bejualan. Kasnah bersemangat.

�Halah, bu Kasnah. Itu kayak janji orang-orang yang nyalon dulu juga gitu. Ngomongnya buka lapangan kerja, sekalinya, yang dimasukan keluarganya semua. Suamiku nganggur ai terus. Bu Kasnah sih enak, suaminya pegawai. May terkekeh.

Kasnah terdiam sebentar. Dia menatap May dengan tatapan tidak enak.

�Pegawai gin, susah jua sekarang. Lakiku kan pegawai rendahan, cuma kerja di kecamatan, Bukan yang tinggi gajinya. Apalagi anakku yang terakhir, handak masuk kuliah. Karena bapaknya pegawai, dikasih uang kuliah paling tinggi. Apa itu, UKT kah namanya? Handak dua puluh lima juta per semester kami harus bayar. Kasnah meringis, tidak mau kalah menderita dari May. Tapi May hanya tersenyum.

�Alhamdulilah, bisa kuliah masih bu. Saya sekarang bingung mau bayar buku anak saya yang masih SD. Padahal cuma lima ratus ribu. Kalau gak mampu sekolah, ya nanti berhenti aja. Nanti saya ajarin dia jualan kue, lumayan ada penghasilan. May masih tersenyum. Seakan tidak ingin terbebani dengan uang sekolah yang tidak bisa dibayarnya tersebut.

Kasnah terdiam, dia semakin tidak enak. Dia buru-buru mengambil kentang, bawang, dan daun bawang, kemudian menyerahkannya pada Narsih. Narsih mengambil kantong plastik bekas berukuran besar dan memasukan semua belanjaan Kasnah. Termasuk dua kilo daging yang di pesan Kasnah.

�Semuanya tiga ratus lima puluh ribu, ya, bu Kasnah. Narsih menyerahkan kantong plastik tersebut kepada Kasnah.

Kasnah mengeluarkan dompetnya, mengambil uang ratusan ribu yang berjejal didalamnya. Ketika dia berusaha menarik uang tersebut, uang didalam dompetnya terhambur keluar. Beberapa uang seratus ribuan tercecer di atas tanah. Kasnah buru-buru memunguti uang tersebut. Kemudian menyerahkan uang pas senilai tiga ratus lima puluh ribu kepada Narsih.

�Pas ya, mbak Nar. Kasnah menutup dompetnya erat, takut isinya terhambur lagi.

�Yasudah, aku bebulik dulu lah, May, Wik? Makasih lah mbak Nar. Kasnah bergegas dari tempat dia berdiri menuju rumahnya.

May memperhatikan Kasnah, hingga Kasnah cukup jauh dari tempat mereka berdiri. May mencolek bahu Dewi. Alisnya terangkat.

�Palingan suaminya korupsi, mana ada pegawai rendahan, duitnya behamburan. bisik May pada Dewi. Dewi hanya menanggapi dengan senyum canggung.

Tag

MORE