Arus Publik

CELIOS

Naskah Akademik CELIOS: Peran Strategis Temasek Holdings dan Economic Development Board dalam Membangun Ekosistem Modal Ventura Singapura

Mulai Awal Pertembuhan Startup Hingga Tahap Pendanaan Lanjut

Jumat, 19 Juni 2026 12:35

SINGAPURA - CELIOS Menyoroti Peran Strategis Dua Institusi Milik Negara Singapura dalam Membangun Ekosistem Ventura yang Kuat./ Foto: Pexels.com (Roshan Ravi)

ARUSBAWAH.CO - Keberhasilan Singapura membangun ekosistem modal ventura yang diakui secara global tidak lepas dari peran aktif lembaga-lembaga milik negara dalam mendorong pertumbuhan investasi.

Hal ini menjadi salah satu studi perbandingan penting dalam Naskah Akademik Pengembangan Dana dan Insentif Perpajakan Modal Ventura di Indonesia yang disusun oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada 2026, sebagai referensi dalam merancang kebijakan ekosistem modal ventura Indonesia yang lebih kompetitif.

Temasek dan EDB, Dua Pilar Negara yang Menggerakkan Ekosistem Ventura Singapura

Naskah akademik CELIOS menyoroti peran strategis dua institusi milik negara Singapura dalam membangun ekosistem ventura yang kuat.

Temasek Holdings dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) menempati posisi sentral dalam memperkuat lanskap investasi ventura di Singapura, baik di tingkat domestik maupun global.

Temasek melalui anak perusahaannya Vertex Holdings secara aktif mendanai startup teknologi di Asia Tenggara dan telah menjadi investor utama di sejumlah unicorn regional, sementara GIC yang dikenal lebih konservatif memberikan pendanaan tahap lanjut bagi startup yang telah menunjukkan validasi pasar dan potensi komersial jangka panjang.

Peran kedua entitas ini melampaui sekadar penyedia modal.

Keterlibatan aktif keduanya tidak hanya memberikan validasi institusional terhadap model bisnis startup, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap ekosistem modal ventura Singapura, sehingga Singapura berhasil memposisikan diri sebagai episentrum distribusi modal ventura di Asia-Pasifik yang mempertemukan modal institusional dengan inovasi teknologi lintas negara.

Di sisi lain, Economic Development Board (EDB) memiliki peran strategis dalam menarik investasi asing dan memperkuat ekosistem startup domestik melalui insentif fiskal dan kemitraan lintas sektor.

Naskah akademik juga mencatat bahwa regulator seperti Monetary Authority of Singapore (MAS) dan EDB didukung oleh talenta profesional yang memahami dinamika pasar keuangan global dan teknologi digital, sehingga kebijakan yang dihasilkan bersifat adaptif dan berbasis data.

Skema Co-Investment hingga SGInnovate, Negara Hadir di Setiap Tahap Pertumbuhan Startup

Kehadiran negara dalam ekosistem modal ventura Singapura tidak hanya pada tahap pendanaan lanjut, tetapi juga sejak tahap awal pertumbuhan startup.

Pemerintah Singapura menawarkan berbagai skema pendanaan seperti Startup SG Founder Grant dan Startup SG Equity, yang memungkinkan pendanaan bersama (co-investment) antara pemerintah dan investor swasta untuk mengurangi risiko investasi tahap awal sekaligus menstimulasi penciptaan startup baru yang berkelanjutan.

Sementara itu, SGInnovate sebagai katalis utama bagi startup deep-tech menyediakan dukungan pembiayaan tahap awal, akses ke talenta unggulan, serta kolaborasi riset dengan lembaga pendidikan tinggi.

Kolaborasi semacam ini tidak hanya meningkatkan kualitas inkubasi startup, tetapi juga mempercepat transisi dari tahap riset ke tahap komersialisasi.

Naskah akademik CELIOS menyimpulkan bahwa tanpa langkah konkret dalam merancang kebijakan serupa, kesenjangan daya saing antara Indonesia dan Singapura dalam ekosistem ekonomi digital ASEAN berpotensi semakin melebar, menjadikan Indonesia bukan sebagai pusat inovasi regional, melainkan hanya sebagai pasar konsumsi digital. (jay)

Tag

MORE