ARUSBAWAH.CO - Ketergantungan ekosistem startup digital Indonesia terhadap modal asing bukan fenomena baru.
Selama satu dekade penuh, dari 2014 hingga November 2024, data yang dikutip dalam Naskah Akademik Pengembangan Dana dan Insentif Perpajakan Modal Ventura di Indonesia yang disusun oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada 2026 memperlihatkan bahwa investasi domestik secara konsisten tertinggal jauh dibandingkan modal yang datang dari luar negeri.
Investasi Domestik Capai Puncak 2015, Lalu Merosot Tajam
Berdasarkan data Dealroom.co yang dikutip dalam naskah akademik tersebut, perbandingan proporsi investasi domestik dan luar negeri di sektor teknologi Indonesia selama periode 2014 hingga November 2024 menunjukkan pola yang cukup konsisten.
Investasi domestik hanya sempat mencatat angka tertingginya pada 2015 dengan nilai Rp78,45 triliun, sebelum kemudian mengalami penurunan drastis pada tahun-tahun berikutnya.
Sejak 2018, kontribusi investasi domestik secara konsisten berada di bawah Rp10 triliun per tahun, dengan angka terendah tercatat pada 2021 yakni hanya Rp7,52 triliun.
Kondisi ini terjadi justru di tahun yang sama ketika total investasi startup digital Indonesia mencapai puncaknya sebesar Rp144,06 triliun, sebuah angka yang hampir seluruhnya ditopang oleh modal asing.
Investasi Asing Bertahan Stabil di Atas Rp90 Triliun per Tahun
Di sisi yang berlawanan, naskah akademik mencatat bahwa investasi luar negeri ke sektor teknologi Indonesia tetap mendominasi dengan angka yang relatif stabil.
Investasi asing tercatat konsisten berada di atas Rp90 triliun per tahun mulai 2016 hingga 2024, menunjukkan bahwa sumber dana eksternal masih menjadi penggerak utama dalam sektor teknologi nasional.
Naskah akademik tersebut juga mencatat data dari sisi asal negara investor.
Berdasarkan data Dealroom.co yang dikutip, investor domestik hanya menyumbang sekitar 11 persen dari total investasi, sementara investor asal Asia menguasai sekitar 55 persen, dengan Singapura dan China sebagai dua negara yang paling dominan.
Banyak pemodal ventura asing memilih Singapura sebagai basis operasional sebelum menyalurkan investasi ke Indonesia, didorong oleh rezim pajak yang kompetitif, infrastruktur hukum yang matang, serta kemudahan pengelolaan modal lintas negara.
Naskah akademik CELIOS menyebutkan bahwa data ini menjadi indikasi perlunya kebijakan yang mendorong lebih banyak investasi dalam negeri agar tercipta ketahanan dan kemandirian ekonomi yang lebih baik di sektor teknologi.
Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, kontribusi investasi domestik yang masih terbatas dan cenderung tidak konsisten dikhawatirkan akan terus berlanjut di tengah persaingan ekosistem digital di kawasan ASEAN. (jay)
- Investor Asing Masih Dominasi Pendanaan Startup Indonesia, Porsi Investor Lokal Baru 11 Persen
- Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda Menuju Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, saat Ini Masih dalam Proses Akreditasi
- Fasilitas Modern hingga CT Scan 128 Slice, Mengenal Layanan di Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda




