Ia tak menampik adanya peluang bagi dirinya sebagai Ketua DPC, tetapi peluang itu juga terbuka bagi kader lain maupun tokoh yang memiliki kedekatan dengan PDI Perjuangan.
"Walaupun sebagai Ketua DPC tentu ada prioritas atau peluang, tetapi tidak hanya itu," kata Iswandi.
"PDI Perjuangan ingin mengusung kader terbaiknya. Bisa dari anggota fraksi, bisa yang di luar fraksi, atau tokoh yang memang berafiliasi dengan PDI Perjuangan dan dianggap mampu," sambungnya.
Ia juga menegaskan, PDI Perjuangan ingin mengakhiri kebiasaan mendukung figur di luar kader partai.
"Insyaallah, kami ingin di Samarinda mengusung kader sendiri. Selama ini kita terus mendorong yang bukan kader PDI Perjuangan, hasilnya ya begini-begini saja," ujarnya.
Yakin PDI Perjuangan Bisa Ubah Samarinda
Dalam kesempatan yang sama, Iswandi juga mengaitkan peluang PDI Perjuangan memimpin Samarinda dengan implementasi konsep Trisakti Bung Karno.
Menurutnya, selama ini ibu kota Kalimantan Timur tersebut belum pernah dipimpin kader PDI Perjuangan.
Padahal, kata dia, sejumlah daerah yang dipimpin kader PDI Perjuangan menunjukkan perubahan signifikan.
Ia mencontohkan Jakarta pada era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat, Surabaya di bawah Tri Rismaharini, hingga Banyuwangi saat dipimpin Abdullah Azwar Anas.
"Kalau nanti Samarinda dipimpin PDI Perjuangan, Trisakti Bung Karno ini pasti bisa dijalankan. Mungkin kolaborasi dengan Gerindra," katanya.
Iswandi bahkan mengaku sempat berdiskusi dengan Helmi Abdullah mengenai optimalisasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk pembangunan kota.
Menurutnya, sejumlah proyek yang selama ini menjadi polemik semestinya dapat dibiayai melalui dana CSR, bukan seluruhnya mengandalkan APBD.
"Contohnya tugu pesut yang sempat jadi polemik. (Seharusnya) enggak perlu APBD, pakai CSR saja, selesai. Enggak ada polemik," tutupnya.
(raf)
Tag



