ARUSBAWAH.CO - Peta politik menuju Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Samarinda 2030 perlahan mulai terbentuk.
Setelah Partai Gerindra lebih dulu memberi sinyal dengan mendeklarasikan Ketua DPRD Samarinda sekaligus Ketua DPC Gerindra Samarinda, Helmi Abdullah, sebagai figur yang akan didorong pada kontestasi mendatang, kini PDI Perjuangan juga mulai membuka ruang komunikasi politik.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Samarinda, Iswandi, melontarkan sinyal politik dengan tidak menutup kemungkinan berpasangan dengan Gerindra pada Pilwali mendatang.
Iswandi mengatakan, partainya menjajaki kemungkinan bergandengan dengan Partai Gerindra, lebih tepatnya dengan Ketua DPC Gerindra Samarinda, Helmi Abdullah, yang telah lebih dulu menyatakan siap maju pada kontestasi mendatang.
Namun, sambung dia, seluruh proses pencalonan masih jauh dan akan ditentukan melalui mekanisme partai.
"Politik itu dinamis. Kalau soal kolaborasi, kita siap saja. Sebagai kader partai saya siap ditugaskan di mana pun," kata Iswandi kepada wartawan usai acara diskusi publik "Memahami Diskusi Bung Karno dalam Pembangunan Kota Samarinda" di kantor DPD PDI Perjuangan Kaltim, Minggu (21/6/2026).
Begitu jawaban Iswandi saat ditanya mengenai kemungkinan duet PDI Perjuangan dan Gerindra pada Pilwali Samarinda.
Namun, ia menilai pembicaraan tersebut masih terlalu dini karena masing-masing partai masih memiliki mekanisme internal.
"Belum ada pembicaraan. Masih lama. Biar orang lain saja yang menafsirkan. Kalau kita bicara terlalu dini, ya belum waktunya," ujarnya.
Meski demikian, Iswandi menegaskan dirinya siap menerima penugasan apa pun dari partai.
"Kalau saya sebagai kader partai ditugaskan oleh partai, saya siap apa pun itu. Jangankan jadi wali kota, jadi gubernur pun saya siap kalau memang ditugaskan," katanya.
Saat ditanya apabila nantinya dipasangkan dengan Helmi Abdullah, baik sebagai calon wali kota maupun wakil wali kota, Iswandi memilih tidak berspekulasi.
Menurutnya, baik PDI Perjuangan maupun Gerindra sama-sama memiliki mekanisme penjaringan calon.
"Kita belum tahu. PDI Perjuangan punya mekanisme, Gerindra juga punya mekanisme," ucap Iswandi.
Ia juga tak mempersoalkan jika nantinya dipasangkan dengan Helmi, dirinya berada di posisi calon wali kota maupun calon wakil wali kota.
"Yang penting kalau maju bukan sekadar maju, tapi juga harus menang. Mau nomor satu atau nomor dua, yang penting menang supaya bisa mengabdi," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, yakni saat sesi diskusi, Iswandi juga sempat melempar candaan yang mengaitkan dirinya dengan Helmi.
Canda itu muncul saat mikrofon yang digunakannya beberapa kali mati.
Ia kemudian berkelakar karena saat sesi Helmi berbicara, tidak ada kendala mikrofon tiba-tiba mati.
"Waktu Pak Helmi ngomong enggak mati-mati ini ya. Ini saya ngomong mic-nya mati-mati ini, Pak," ucapnya disambut gelak tawa peserta.
"Wah, ada tim Pak Helmi di belakang. Nah, ini mulai, Pak Helmi memang ngeri gerilyanya," canda Iswandi sembari tertawa.
Tak berhenti di situ, Iswandi kemudian menambahkan, "Mudah-mudahan kita berjodoh nanti, Pak."
Tak lama kemudian, ia kembali berkelakar, "Masih lama. Tenang, saya sudah ada di sini."
Secara hitungan politik sendiri, PDI Perjuangan belum bisa mengusung calon sendiri di Pilwali Samarinda.
Partai berlambang banteng moncong putih itu hanya memiliki enam kursi di DPRD Samarinda.
Jika mengacu pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota, partai politik atau gabungan partai politik harus memiliki minimal 20 persen kursi DPRD atau 25 persen suara sah hasil Pemilu DPRD untuk dapat mengusung pasangan calon kepala daerah.
Dengan komposisi 45 kursi DPRD Kota Samarinda, ambang batas tersebut setara dengan 9 kursi.
Artinya, partai yang memiliki kurang dari 9 kursi harus berkoalisi dengan partai lain untuk mengusung pasangan calon wali kota.
PDI Perjuangan Siapkan Kader Sendiri
Iswandi memastikan PDI Perjuangan menargetkan mengusung kader sendiri pada Pilwali Samarinda mendatang.
Meski keputusan akhir berada di tangan DPP PDI Perjuangan, DPC dan DPD akan lebih dahulu mengusulkan nama-nama yang dinilai layak.
"DPD nanti mengusulkan, tetapi yang memutuskan tetap DPP," jelas Iswandi.
Ia tak menampik adanya peluang bagi dirinya sebagai Ketua DPC, tetapi peluang itu juga terbuka bagi kader lain maupun tokoh yang memiliki kedekatan dengan PDI Perjuangan.
"Walaupun sebagai Ketua DPC tentu ada prioritas atau peluang, tetapi tidak hanya itu," kata Iswandi.
"PDI Perjuangan ingin mengusung kader terbaiknya. Bisa dari anggota fraksi, bisa yang di luar fraksi, atau tokoh yang memang berafiliasi dengan PDI Perjuangan dan dianggap mampu," sambungnya.
Ia juga menegaskan, PDI Perjuangan ingin mengakhiri kebiasaan mendukung figur di luar kader partai.
"Insyaallah, kami ingin di Samarinda mengusung kader sendiri. Selama ini kita terus mendorong yang bukan kader PDI Perjuangan, hasilnya ya begini-begini saja," ujarnya.
Yakin PDI Perjuangan Bisa Ubah Samarinda
Dalam kesempatan yang sama, Iswandi juga mengaitkan peluang PDI Perjuangan memimpin Samarinda dengan implementasi konsep Trisakti Bung Karno.
Menurutnya, selama ini ibu kota Kalimantan Timur tersebut belum pernah dipimpin kader PDI Perjuangan.
Padahal, kata dia, sejumlah daerah yang dipimpin kader PDI Perjuangan menunjukkan perubahan signifikan.
Ia mencontohkan Jakarta pada era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat, Surabaya di bawah Tri Rismaharini, hingga Banyuwangi saat dipimpin Abdullah Azwar Anas.
"Kalau nanti Samarinda dipimpin PDI Perjuangan, Trisakti Bung Karno ini pasti bisa dijalankan. Mungkin kolaborasi dengan Gerindra," katanya.
Iswandi bahkan mengaku sempat berdiskusi dengan Helmi Abdullah mengenai optimalisasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk pembangunan kota.
Menurutnya, sejumlah proyek yang selama ini menjadi polemik semestinya dapat dibiayai melalui dana CSR, bukan seluruhnya mengandalkan APBD.
"Contohnya tugu pesut yang sempat jadi polemik. (Seharusnya) enggak perlu APBD, pakai CSR saja, selesai. Enggak ada polemik," tutupnya.
(raf)




