ARUSBAWAH.CO - Riuh tepuk tangan dan gelak tawa sesekali terdengar dari kawasan Tugu Citra Niaga saat dua tokoh Samarinda, Syafruddin Pernyata dan Aji Sofyan Effendi atau yang akrab disapa Abah, membawa ratusan pengunjung menyusuri lorong waktu Kota Tepian pada Jumat (5/6/2026) malam.
Momen itu hadir dalam talkshow bertajuk “Samarinda Tempo Doeloe: Cerita Kota, Jejak Masa Lalu, Arah Masa Depan” yang menjadi salah satu agenda utama pembukaan KALA FEST 2026 (Kalimantan Art, Koeltoer dan Lokal Aktie Festival).
Mengusung tema “The Golden Days of Tempo Doeloe”, festival yang digagas Tirto Negoro Foundation tersebut menghadirkan nuansa nostalgia melalui seni, budaya, kuliner, hingga permainan tradisional mulai tanggal 5 hingga 7 Juni mendatang.
Dalam talkshow yang dimoderatori Ketua Tirto Negoro Foundation, Rahmad Azazi, para narasumber mengisahkan wajah Samarinda puluhan tahun lalu, serta membahas arah perkembangan kota di masa mendatang.
Kebakaran 1958 yang Meluluhlantakkan Jantung Kota
Sejarawan dan budayawan Samarinda, Syafruddin Pernyata, membuka diskusi dengan mengingatkan publik pada salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Kota Samarinda.
Ia bercerita tentang Kebakaran Besar Samarinda yang terjadi pada 4 April 1958 dan meluluhlantakkan kawasan pusat kota.
“Bayangkan, dari Pasar Pagi sampai Jalan Pelabuhan dan Jalan Dermaga dulu habis terbakar. Kota benar-benar padam,” ujarnya.
Saat itu, kata dia, Samarinda belum memiliki armada pemadam kebakaran sehingga proses penanganan berlangsung sangat lama. Api berkobar selama berhari-hari dan baru benar-benar padam setelah proses pendinginan yang memakan waktu sekitar sepekan.
"Api berkobar sekitar tiga hari, tetapi proses pendinginannya sampai seminggu karena saat itu belum ada pemadam kebakaran," katanya.
Mayoritas bangunan yang masih menggunakan material kayu membuat api cepat menyebar ke berbagai penjuru kawasan perdagangan.
"Bangunan-bangunan di kawasan tersebut umumnya masih berbahan kayu. Itulah yang membuat kebakaran menjadi sangat dahsyat," lanjutnya.
Syafruddin mengungkapkan peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi Samarinda.
Bahkan hingga kini, ia menilai belum ada kebakaran lain yang dampaknya melebihi tragedi tahun 1958 tersebut.
"Peristiwa itu terjadi sekitar 68 tahun lalu. Saya lahir empat bulan setelah kejadian itu. Jadi empat bulan sebelum saya lahir terjadi Kebakaran Besar Samarinda yang sampai sekarang belum pernah ada lagi yang lebih besar," tuturnya.
Kebakaran tersebut meninggalkan lahan kosong yang lama terbengkalai.
Kawasan yang kini dikenal sebagai Citra Niaga (dulunya disebut THG atau Taman Hiburan Gelora) sempat dipenuhi semak belukar selama bertahun-tahun.
"Baru pada era Wali Kota Kadri Oening sekitar tahun 1968, kawasan bekas kebakaran mulai ditata kembali," ungkapnya.
Saat Samarinda Masih Kecil dan Jalan Baru Belum Bernama Basuki Rahmat
Syafruddin menggambarkan Samarinda masa itu sebagai kota yang ukurannya masih sangat terbatas.
Jalan Diponegoro menjadi salah satu ruas utama, sementara Jalan Basuki Rahmat yang kini menjadi salah satu jalur penting kota saat itu bahkan masih dikenal dengan nama Jalan Baru.
“Karena memang baru dibangun waktu itu,” ujarnya.
Meski ukurannya kecil, Samarinda disebutnya sebagai kota yang memiliki geliat ekonomi luar biasa.
Ia menyinggung kawasan Penoon di Hulu Mahakam yang pada masa itu dikenal sebagai pusat aktivitas kayu dan perdagangan.
Menurutnya, daya beli masyarakat Samarinda pada masa itu tergolong tinggi.
“Orang sudah beli radio, sudah beli kulkas, padahal listrik belum merata,” kenangnya.
Ia juga membagikan cerita unik tentang warga yang membeli kulkas bukan untuk membuat es, melainkan digunakan sebagai lemari penyimpanan pakaian karena pasokan listrik belum memadai.
"Bahkan ada cerita lucu. Kulkas yang dibeli bukan digunakan untuk membuat es tapi dipakai menyimpan pakaian. Radio yang sudah rusak pun tidak dibuang, tapi dimanfaatkan untuk keperluan lain di rumah," lanjutnya.
Tiga Night Club dan Deretan Bioskop di Kota Tepian
Dalam paparannya, Syafruddin juga mengungkap sisi lain Samarinda yang mungkin tidak banyak diketahui generasi muda.
Menurutnya, kehidupan hiburan malam sudah berkembang di Kota Tepian sejak dekade 1970-an.
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga night club yang pernah beroperasi di Samarinda.
Salah satunya Mahakam Country Club yang berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Super Bazaar.
Kemudian Bidadari Mahakam yang berada di sekitar Hotel Gloria serta satu tempat hiburan lain di kawasan Lamin Indah dekat Hotel Mesra.
Tak hanya itu, Samarinda juga pernah memiliki sejumlah bioskop yang ramai dikunjungi masyarakat.
Di antaranya Bioskop Luxor yang kemudian berganti nama menjadi Bioskop Kutai dan selanjutnya Bioskop Mahakam, Bioskop Garuda di Jalan Diponegoro, Bioskop Parahyangan, hingga Bioskop Samarinda Indah yang berada di Gedung Nasional.
“Kalau bicara Samarinda tahun 1970-an, sebenarnya kota ini jauh lebih maju daripada yang dibayangkan banyak orang,” tuturnya.
THG dan Kenangan Mamanda yang Tak Terlupakan
Kawasan Citra Niaga yang menjadi lokasi KALA FEST saat ini ternyata menyimpan kenangan khusus bagi Syafruddin.
Sebelum menjadi kawasan perdagangan seperti sekarang, lokasi tersebut dikenal sebagai THG atau Taman Hiburan Gelora.
Di tempat itulah berbagai pertunjukan rakyat digelar, termasuk seni teater tradisional Mamanda yang sangat populer pada masanya.
Syafruddin mengaku menjadi salah satu penonton setia pertunjukan tersebut saat masih kecil.
Ia mengenang pernah pulang larut malam setelah menonton Mamanda hingga pukul 23.00 WITA dan membuat ayahnya marah karena khawatir.
“Itu salah satu kenangan yang paling membekas bagi saya,” katanya.
Sofyan: Jalan Tol Pertama Samarinda Adalah Sungai Mahakam
Sementara itu, Korbid Ekonomi Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda, Aji Sofyan Effendi, mengajak peserta diskusi melihat sejarah Samarinda dari perspektif yang berbeda.
Ia melempar pertanyaan kepada audiens tentang di mana jalan tol pertama Samarinda berada.
Sebagian besar peserta menyebut Jalan Tol Samarinda–Balikpapan. Namun menurut Sofyan, jawabannya justru Sungai Mahakam.
“Sebelum ada Jalan Juanda, Jalan Diponegoro, dan jalan-jalan besar lainnya, pusat perdagangan Samarinda itu ada di Sungai Mahakam,” ujarnya.
Menurutnya, sejak awal Sungai Mahakam menjadi jalur utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Aktivitas perdagangan berkembang di tepian sungai dan melahirkan kampung-kampung yang tumbuh mengikuti alur Mahakam.
Ia menyebut fase itu sebagai Samarinda dimensi pertama.
Sofyan menjelaskan, jauh sebelum jaringan jalan darat berkembang seperti sekarang, seluruh aktivitas perdagangan dan distribusi barang bertumpu pada Sungai Mahakam.
"Sebelum ada Jalan Juanda, Jalan Diponegoro, dan jalan-jalan besar lainnya, pusat perdagangan Samarinda bertumpu pada Sungai Mahakam. Distribusi barang dilakukan melalui sungai," katanya.
Kota yang Tumbuh dari Keberagaman dan Perdagangan
Sofyan menegaskan bahwa identitas Samarinda sejak awal bukanlah kota tambang maupun kota migas.
Menurutnya, DNA Samarinda adalah kota perdagangan dan jasa yang dibangun oleh keberagaman masyarakat.
“Pasar dan pelabuhan adalah jantung kehidupan kota,” katanya.
Berbagai kelompok etnis datang, berdagang, kemudian menetap dan membangun kehidupan bersama di Samarinda.
Karakter multikultural itulah yang menjadi kekuatan utama kota hingga saat ini.
Dari sejarah tersebut, lanjutnya, lahir status Samarinda sebagai pusat perdagangan dan jasa terbesar di Kalimantan Timur setelah Balikpapan.
Samarinda 3.0: Kota Talenta dan Ekonomi Kreatif
Melihat perkembangan saat ini, Sofyan menilai Samarinda telah memasuki fase baru.
Jika dahulu bertumpu pada perdagangan sungai dan sektor berbasis sumber daya alam, kini Kota Tepian berkembang menjadi pusat pendidikan, kesehatan, jasa, dan ekonomi kreatif.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai Samarinda 3.0 atau Samarinda dimensi ketiga.
“Samarinda ke depan adalah kota jasa, kota pendidikan, kota UMKM, kota kreatif, dan kota talenta,” ujarnya.
Menurutnya, masa depan kota tidak lagi bergantung pada sumber daya alam, melainkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki.
Karena itu, ruang publik seperti Citra Niaga harus terus dikembangkan sebagai ruang interaksi sosial yang nyaman sekaligus menjadi wajah kota.
“Kalau Sungai Mahakam adalah simbol sejarah lahirnya Samarinda, maka Citra Niaga adalah simbol transformasi ekonomi kota ini,” pungkasnya.
FYI, gelaran KALA FEST 2026 sendiri berlangsung selama tiga hari, 5–7 Juni 2026, di kawasan Citra Niaga Samarinda.
Festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni budaya, pameran komunitas, kuliner tradisional, permainan rakyat, hingga diskusi sejarah yang mengajak masyarakat mengenang masa lalu sekaligus membayangkan masa depan Kota Tepian. (raf)
- KALA FEST 2026 Digelar di Citra Niaga Samarinda, Ini Rangkaian Acara Lengkap Hari Pertamanya
- Nostalgia Kota Lawas di KalaFest 2026, Ada Parade Vespa hingga Jajanan Tempo Doeloe
- Puncak SastraLoka 2025 Digelar di Samarinda: Rayakan Warisan Sastra Kalimantan Timur
- Tirtonegoro Foundation Meriahkan Puncak Hari Aksara Internasional 2025 dengan Musik Sape




