Aktivitas perdagangan berkembang di tepian sungai dan melahirkan kampung-kampung yang tumbuh mengikuti alur Mahakam.
Ia menyebut fase itu sebagai Samarinda dimensi pertama.
Sofyan menjelaskan, jauh sebelum jaringan jalan darat berkembang seperti sekarang, seluruh aktivitas perdagangan dan distribusi barang bertumpu pada Sungai Mahakam.
"Sebelum ada Jalan Juanda, Jalan Diponegoro, dan jalan-jalan besar lainnya, pusat perdagangan Samarinda bertumpu pada Sungai Mahakam. Distribusi barang dilakukan melalui sungai," katanya.
Kota yang Tumbuh dari Keberagaman dan Perdagangan
Sofyan menegaskan bahwa identitas Samarinda sejak awal bukanlah kota tambang maupun kota migas.
Menurutnya, DNA Samarinda adalah kota perdagangan dan jasa yang dibangun oleh keberagaman masyarakat.
“Pasar dan pelabuhan adalah jantung kehidupan kota,” katanya.
Berbagai kelompok etnis datang, berdagang, kemudian menetap dan membangun kehidupan bersama di Samarinda.
Karakter multikultural itulah yang menjadi kekuatan utama kota hingga saat ini.
Dari sejarah tersebut, lanjutnya, lahir status Samarinda sebagai pusat perdagangan dan jasa terbesar di Kalimantan Timur setelah Balikpapan.
Samarinda 3.0: Kota Talenta dan Ekonomi Kreatif
Melihat perkembangan saat ini, Sofyan menilai Samarinda telah memasuki fase baru.
Jika dahulu bertumpu pada perdagangan sungai dan sektor berbasis sumber daya alam, kini Kota Tepian berkembang menjadi pusat pendidikan, kesehatan, jasa, dan ekonomi kreatif.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai Samarinda 3.0 atau Samarinda dimensi ketiga.
“Samarinda ke depan adalah kota jasa, kota pendidikan, kota UMKM, kota kreatif, dan kota talenta,” ujarnya.
Menurutnya, masa depan kota tidak lagi bergantung pada sumber daya alam, melainkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki.
Karena itu, ruang publik seperti Citra Niaga harus terus dikembangkan sebagai ruang interaksi sosial yang nyaman sekaligus menjadi wajah kota.
“Kalau Sungai Mahakam adalah simbol sejarah lahirnya Samarinda, maka Citra Niaga adalah simbol transformasi ekonomi kota ini,” pungkasnya.
FYI, gelaran KALA FEST 2026 sendiri berlangsung selama tiga hari, 5–7 Juni 2026, di kawasan Citra Niaga Samarinda.
Festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni budaya, pameran komunitas, kuliner tradisional, permainan rakyat, hingga diskusi sejarah yang mengajak masyarakat mengenang masa lalu sekaligus membayangkan masa depan Kota Tepian. (raf)
- KALA FEST 2026 Digelar di Citra Niaga Samarinda, Ini Rangkaian Acara Lengkap Hari Pertamanya
- Nostalgia Kota Lawas di KalaFest 2026, Ada Parade Vespa hingga Jajanan Tempo Doeloe
- Puncak SastraLoka 2025 Digelar di Samarinda: Rayakan Warisan Sastra Kalimantan Timur
- Tirtonegoro Foundation Meriahkan Puncak Hari Aksara Internasional 2025 dengan Musik Sape
Tag




