“Orang sudah beli radio, sudah beli kulkas, padahal listrik belum merata,” kenangnya.
Ia juga membagikan cerita unik tentang warga yang membeli kulkas bukan untuk membuat es, melainkan digunakan sebagai lemari penyimpanan pakaian karena pasokan listrik belum memadai.
"Bahkan ada cerita lucu. Kulkas yang dibeli bukan digunakan untuk membuat es tapi dipakai menyimpan pakaian. Radio yang sudah rusak pun tidak dibuang, tapi dimanfaatkan untuk keperluan lain di rumah," lanjutnya.
Tiga Night Club dan Deretan Bioskop di Kota Tepian
Dalam paparannya, Syafruddin juga mengungkap sisi lain Samarinda yang mungkin tidak banyak diketahui generasi muda.
Menurutnya, kehidupan hiburan malam sudah berkembang di Kota Tepian sejak dekade 1970-an.
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga night club yang pernah beroperasi di Samarinda.
Salah satunya Mahakam Country Club yang berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Super Bazaar.
Kemudian Bidadari Mahakam yang berada di sekitar Hotel Gloria serta satu tempat hiburan lain di kawasan Lamin Indah dekat Hotel Mesra.
Tak hanya itu, Samarinda juga pernah memiliki sejumlah bioskop yang ramai dikunjungi masyarakat.
Di antaranya Bioskop Luxor yang kemudian berganti nama menjadi Bioskop Kutai dan selanjutnya Bioskop Mahakam, Bioskop Garuda di Jalan Diponegoro, Bioskop Parahyangan, hingga Bioskop Samarinda Indah yang berada di Gedung Nasional.
“Kalau bicara Samarinda tahun 1970-an, sebenarnya kota ini jauh lebih maju daripada yang dibayangkan banyak orang,” tuturnya.
THG dan Kenangan Mamanda yang Tak Terlupakan
Kawasan Citra Niaga yang menjadi lokasi KALA FEST saat ini ternyata menyimpan kenangan khusus bagi Syafruddin.
Sebelum menjadi kawasan perdagangan seperti sekarang, lokasi tersebut dikenal sebagai THG atau Taman Hiburan Gelora.
Di tempat itulah berbagai pertunjukan rakyat digelar, termasuk seni teater tradisional Mamanda yang sangat populer pada masanya.
Syafruddin mengaku menjadi salah satu penonton setia pertunjukan tersebut saat masih kecil.
Ia mengenang pernah pulang larut malam setelah menonton Mamanda hingga pukul 23.00 WITA dan membuat ayahnya marah karena khawatir.
“Itu salah satu kenangan yang paling membekas bagi saya,” katanya.
Sofyan: Jalan Tol Pertama Samarinda Adalah Sungai Mahakam
Sementara itu, Korbid Ekonomi Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda, Aji Sofyan Effendi, mengajak peserta diskusi melihat sejarah Samarinda dari perspektif yang berbeda.
Ia melempar pertanyaan kepada audiens tentang di mana jalan tol pertama Samarinda berada.
Sebagian besar peserta menyebut Jalan Tol Samarinda–Balikpapan. Namun menurut Sofyan, jawabannya justru Sungai Mahakam.
“Sebelum ada Jalan Juanda, Jalan Diponegoro, dan jalan-jalan besar lainnya, pusat perdagangan Samarinda itu ada di Sungai Mahakam,” ujarnya.
Menurutnya, sejak awal Sungai Mahakam menjadi jalur utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Tag



