Arus Publik

Samarinda Terkini

Lorong-Lorong Baru, Pembeli yang Belum Kembali: Cerita Pedagang Menanti Ramainya Pasar Pagi

DAGANGAN - Kios sembako milik Surati (68) di Pasar Pagi Samarinda/ARUSBAWAH.CO

Dulu, kata Surati, pembeli bisa keluar-masuk dari berbagai arah dan berpindah lorong tanpa harus kembali ke titik semula.

Kini, menurutnya, arus itu tak lagi seluwes dulu.

“Terutama yang di lantai dua ini, salah susun. Ini nggak ada jalannya, cuma lorong tembus ke sana (ujung). Yang di sana (ujung) kan jadinya nggak dapat pembeli," katanya.

Ia membandingkan kondisi itu dengan Pasar Pagi lama yang menurutnya memiliki lebih banyak akses keluar masuk sehingga pembeli lebih mudah menjelajahi seluruh area pasar.

“Ya bagus yang dulu. Kalau dulu setiap lima pintu ada lorong, setiap tiga pintu ada lorong. Jalan bisa dari arah ke sana ke sini,” ujarnya.

Surati mengatakan kondisi tersebut memicu keluhan dari banyak pedagang, terutama yang menempati kios di bagian dalam.

Menurutnya, beberapa pedagang bahkan sempat berjualan di koridor karena kios mereka nyaris tidak tersentuh pembeli.

“Iya, jualan di situ (koridor). Di pinggir-pinggir ini. Kan dilarang,” katanya.

Ia menyebut kios-kios yang berada di ujung lorong menjadi lokasi yang paling terdampak.

“Yang di dalam nggak pernah dapat pelaris. Yang dapat yang di pinggir-pinggir gini,” ujarnya.

 

Pasar Belum Lengkap Terisi

Bagi Surati, sepinya pasar bukan hanya soal tangga atau tata letak lorong. Ada hal lain yang menurutnya ikut memengaruhi: belum lengkapnya pedagang yang menempati bangunan baru Pasar Pagi.

Dari kios sembakonya, ia melihat masih banyak jenis dagangan yang belum hadir sepenuhnya.

Padahal, menurutnya, pasar tradisional hidup karena saling terhubungnya kebutuhan pembeli.

Pedagang sayur, ikan, daging belum ada yang masuk. Kalau sembako kan gandengannya ikan, daging, ayam, sayur. Kalau itu nggak ada ya nggak bisa jalan,” katanya.

Bagi perempuan yang sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Pagi itu, pembeli jarang datang hanya untuk membeli satu jenis barang.

Orang yang mencari ikan biasanya sekalian membeli bumbu dapur. Yang datang untuk membeli sayur kerap mampir membeli beras, minyak goreng, atau kebutuhan pokok lainnya.

Karena itu, ketika sejumlah komoditas utama belum sepenuhnya tersedia, keramaian yang biasa tercipta di pasar pun belum terbentuk.

“Kalau masalah sembako ini kan bahan pokok yang hari-hari dipakai. Ikan, daging, ayam, sayur. Iya toh, Nduk? Kalau iku enggak ada ya enggak bisa,” ujarnya.

Karena itu, Surati merasa aktivitas perdagangan saat ini belum bisa dibandingkan dengan kondisi Pasar Pagi lama yang menurutnya jauh lebih hidup.

“Belum seramai yang dulu. Aku ini kan sudah 45 tahun di Pasar Pagi,” katanya.

Punya Empat Kios, Baru Dua yang Dibuka

Tag

MORE