Arus Terkini

Laporan The New York Times Ungkap Industri RV Amerika Gunduli Hutan Kalimantan

Jumat, 29 Agustus 2025 21:16

SITUS THE NEW YORK TIMES - Tangkapan layar situs pemberitaan The New York Times/ IST

ARUSBAWAH.CO -  Sebuah laporan dari The New York Times mengungkapkan bagaimana meningkatnya permintaan industri rekreasi kendaraan (recreational vehicles atau R.V.) di Amerika Serikat telah mendorong deforestasi besar-besaran di Pulau Borneo, tepatnya hutan Kalimantan.

Penebangan hutan Kalimantan yang masif untuk memenuhi kebutuhan kayu lapis bagi produksi R.V. dinilai telah menimbulkan dampak serius bagi lingkungan, keanekaragaman hayati, hingga masyarakat adat yang bergantung pada hutan.

Permintaan Kayu Lapis untuk Industri R.V.

Menurut laporan tersebut, produsen R.V. di Amerika semakin bergantung pada kayu lapis asal Asia, khususnya dari Borneo.

Kayu lapis dipakai sebagai bahan utama lantai, dinding, dan atap kendaraan rekreasi yang saat ini tengah naik daun di pasar Amerika.

Dengan tingginya tren wisata berbasis R.V. pascapandemi, permintaan melonjak tajam dan membuat pemasok global meningkatkan impor dari Asia Tenggara.

Hutan Borneo pun menjadi sasaran utama karena dianggap memiliki kayu dengan kualitas dan harga kompetitif.

Deforestasi dan Hilangnya Habitat

Namun, dampak dari ekspansi ini sangat meresahkan.

Data satelit yang dikutip The New York Times menunjukkan bahwa ribuan hektare hutan di Kalimantan—bagian dari Borneo yang masuk wilayah Indonesia—telah hilang dalam beberapa tahun terakhir.

Hilangnya hutan tidak hanya berarti berkurangnya penyerapan karbon, tetapi juga memperparah krisis iklim.

Spesies langka seperti orangutan, macan dahan, dan beruang madu semakin terancam karena habitat alaminya makin menyusut akibat pembukaan lahan untuk industri kayu.

 

Tekanan terhadap Masyarakat Lokal

Selain masalah lingkungan, masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan juga ikut terdampak.

Banyak komunitas kehilangan sumber penghidupan, baik dari hasil hutan non-kayu maupun dari lahan pertanian yang selama ini mereka kelola secara turun-temurun.

Beberapa aktivis lingkungan menilai praktik penebangan ini sering kali tidak transparan.

Perusahaan pemasok kayu disebutkan kerap menggunakan celah regulasi atau lemahnya pengawasan untuk mengekspor kayu secara masif ke pasar internasional.

Jejak Rantai Pasok yang Rumit

The New York Times juga menyoroti betapa rumitnya rantai pasok kayu ini.

Kayu lapis dari Borneo sering kali melalui sejumlah perantara sebelum akhirnya sampai ke pabrikan R.V. di Amerika. Hal ini membuat konsumen di negara maju sulit menelusuri apakah kayu yang mereka gunakan berasal dari praktik legal atau justru dari deforestasi ilegal.

Beberapa perusahaan R.V. di AS bahkan mengaku tidak sepenuhnya mengetahui asal usul bahan baku kayu yang mereka gunakan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan etis mengenai tanggung jawab korporasi terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ancaman terhadap Masa Depan Hutan Kalimantan

Jika tren penebangan tidak terkendali, para peneliti memperingatkan Borneo bisa kehilangan sebagian besar tutupan hutannya dalam beberapa dekade ke depan.

Hal ini tidak hanya mengancam spesies endemik, tetapi juga memperburuk krisis iklim global yang dampaknya akan dirasakan oleh seluruh dunia. (pra)

 

Tag

MORE