Arus Publik

Laporan CELIOS: Malaysia Beri Pajak 5 Persen untuk Venture Capital, Indonesia Masih Tertinggal

Insentif Pajak Venture Capital Indonesia Dinilai Tertinggal

Kamis, 18 Juni 2026 12:18

ILUSTRASI - CELIOS menyoroti ketertinggalan Indonesia dalam pemberian insentif bagi venture capital/ Foto: Getty Images

ARUSBAWAH.CO - Indonesia dinilai masih tertinggal dibanding sejumlah negara Asia Tenggara dalam memberikan insentif fiskal bagi industri modal ventura atau venture capital. 

Kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan Malaysia telah lebih dulu menerapkan berbagai kebijakan pajak yang dirancang khusus untuk menarik investasi modal ventura dan memperkuat ekosistem startup domestik.

Salah satu insentif yang ditawarkan Malaysia adalah tarif pajak konsesi sebesar 5 persen hingga 10 persen bagi perusahaan venture capital yang memenuhi persyaratan tertentu. 

Fasilitas tersebut dapat diberikan hingga 10 tahun dan ditujukan untuk meningkatkan minat investor menanamkan modal pada perusahaan rintisan dan sektor inovatif. 

Indonesia Masih Terbatas pada Pengecualian Dividen

Sementara itu, Indonesia saat ini hanya memberikan fasilitas berupa pengecualian Pajak Penghasilan (PPh) atas dividen atau bagian laba yang diterima perusahaan modal ventura dari perusahaan pasangan usaha yang memenuhi syarat tertentu. 

Namun, insentif tersebut belum mencakup keuntungan dari penjualan saham atau capital gain yang justru menjadi sumber keuntungan utama bagi banyak perusahaan modal ventura

Menurut kajian CELIOS, kondisi tersebut membuat daya tarik investasi modal ventura di Indonesia relatif lebih rendah dibanding negara-negara yang telah memberikan insentif pajak secara lebih komprehensif.

Insentif Pajak Dinilai Mampu Menarik Investasi Lebih Besar

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa negara yang memberikan insentif fiskal kepada industri modal ventura cenderung memiliki tingkat investasi yang jauh lebih tinggi dibanding negara yang tidak memberikan fasilitas serupa. 

Insentif pajak dinilai mampu meningkatkan minat investor untuk menyalurkan modal ke sektor teknologi, startup, dan usaha inovatif yang memiliki risiko tinggi namun berpotensi memberikan dampak ekonomi besar. 

CELIOS menilai kebijakan fiskal tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penerimaan negara, tetapi juga dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor strategis yang membutuhkan dukungan pembiayaan jangka panjang. 

Ketergantungan pada Modal Asing Masih Tinggi

Minimnya insentif juga dinilai berkontribusi terhadap rendahnya partisipasi investor domestik dalam pendanaan startup. 

Kajian tersebut mencatat sebagian besar investasi di sektor teknologi Indonesia masih berasal dari luar negeri, sementara kontribusi investor dalam negeri relatif kecil dan tidak konsisten. 

Ketergantungan yang tinggi terhadap modal asing dinilai berisiko terhadap kemandirian ekosistem digital nasional. 

Selain berpotensi memicu arus keluar modal, kondisi ini juga membuat arah pertumbuhan industri teknologi lebih banyak dipengaruhi kepentingan investor global dibanding kebutuhan pasar domestik. 

CELIOS Dorong Reformasi Kebijakan Fiskal

Melihat kondisi tersebut, CELIOS merekomendasikan pemerintah memperluas insentif perpajakan bagi perusahaan modal ventura

Salah satu usulan yang disampaikan adalah pemberian diskon tarif pajak penghasilan bagi perusahaan yang berinvestasi pada sektor teknologi digital dan inovasi strategis.

Menurut CELIOS, langkah tersebut dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi, memperkuat industri modal ventura domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber pendanaan asing di masa mendatang. (naa)

Tag

MORE